ABSES REGIO BUCCALIS PADA KUCING


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Anamnese dari pemilik didapatkan keterangan bahwa kucing ini telah mengalami abses setahun yang lalu. Abses tidak kunjung sembuh malah semakin lama semakin membesar. Kucing ini sulit dihandle sehingga pemilik merasa kesulitan untuk mencoba mengobati sendiri. Tindakan penanganan yang tepat perlu segera dilakukan mengingat abses semakin membesar dan juga terdapat fistula di regio buccalis.

Gambar 1. Abses Regio Buccalis

Kucing dibius secara general karena sulit dihandle untuk dilakukan pemeriksaan secara seksama. Setelah terbius, bagian buccalis dicukur dan dilakukan pemeriksaan mulai dari regio buccalis hingga ke cavum oris untuk melihat apakah abses disebabkan karena ginggivitis atau hanya luka trauma dari regio buccalis saja. Hasil pemeriksaan di cavum oris, terlihat mukosa mengalami peradangan di bagian atas ujung dari dentes molaris. Hal ini menunjukkan bahwa causa dari abses berasal dari alveolitis. Alveoltis bisa didahului oleh ginggivitis karena adanya trauma oleh makanan yang keras/tajam seperti tulang atau duri ikan. Tindakan selanjutnya isi abses dibersihkan dengan air, setelah bersih kucing dibawa kemeja operasi. Dibuat sayatan di ventral mandibula untuk memudahkan proses drainage. Luka abses dibersihkan dengan NaCl fisiologis hingga cairan benar-benar bening (Eldredge et al. 2008).

Gambar 2. Radang Mukosa Caudo Dentes Molares Dorsalis

Kassa yang telah dibasahi rivanol 0,1% digunakan untuk membersihakan luka bagian dalam. Antibiotik kombinasi penisilin streptomisin diteteskan ke dalam bagian abses untuk membunuh bakteri pyogenes (Staphylococcus spp). Bagian dalam abses dimasukkan kassa yang telah dibasahi rivanol 0,1% dan diikatkan pada lubang drainage. Terakhir, regio yang mengalami abses dibalut dengan verband.

Gambar 3. Post Operasi

Perawatan post operasi dilakukan di rumah pemilik, kucing diberi amoxicillin selama 7 hari dua kali sehari dosis 20 mg/kg BB. Tujuan pemberian antibiotik berspektrum luas adalah untuk mencegah infeksi sekunder akibat dari bakteri-bakteri pyogenes (Staphylococcus spp.; Escherichia coli; b-hemolytic Streptococcus spp.; Pseudomonas; Mycoplasma and Mycoplasma-like organisms (L-forms); Pasteurella multocida; Corynebacterium; Actinomyces spp.; Nocardia) (Tilley dan Smith 2000). Verband dibuka sekitar hari keempat bila daerah bekas abses tidak lagi mengeluarkan cairan. Treatment dilanjutkan dengan mengolesi luka dengan peru balsem 10% untuk merangsang proses granulasi. Monitoring status present sulit dilakukan karena kucing sulit dihandle.

KESIMPULAN

Kejadian abses bermula dari trauma yang diikuti masuknya bakteri. Ketika bakteri/benda asing berada dalam jaringan, terbentuklah eksudat kemudian terakumulasi, jika tidak segera diekskresikan atau di absorbsi tubuh, maka akan memicu terbentuknya kapsul fibrous yang juga sering diikuti rupturnya jaringan.

Teknik penanganan abses pada prinsipnya adalah pengeluran nanah, irigasi, drainage, dan granulasi. Pemberian antibiotik berspektrum luas berguna untuk mengatasi bakteri-bakteri pyogenes (Staphylococcus spp.; Escherichia coli; b-hemolytic Streptococcus spp.; Pseudomonas; Mycoplasma and Mycoplasma-like organisms (L-forms); Pasteurella multocida; Corynebacterium; Actinomyces spp.; Nocardia).

DAFTAR PUSTAKA

Tilley & Smith. 2000. The 5-Minute Veterinary Consult, ver2. Software: Ready

Reference , Lippincott Williams & Wilkins.

Eldredge DM, Carlson DG, Carlson LG, & Giffin JM. 2008. Cat’s Owner Home

Veterinary Handbook. Third ed. Willey Publishing Inc. New Jersey.

Both comments and trackbacks are currently closed.