KOKSIDIOSIS PADA AYAM


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Klasifikasi

Phylum    :  Apicomplexa

Klass        :  Sporozoa

Sub klas  : Coceidia

Ordo       : Eucoceidia

Sub ord  : Eimeriina

Familia   : Eimeriidae

Genus     : Eimeria,

Spesies   : E. tenella, E. necatrix, E. maxima, E. brunette, E. acervulina, E. mitis, E.mivati, E. praecox, dan E. hagani.

Pada ayam terdapat sembilan spesies Eimeria yaitu : Eimeria tenella,      E. necatrix, E. maxima, E. brunette, E. acervulina, E. mitis, E.mivati, E. praecox, dan E. hagani. Spesies yang paling pathogen pada unggas yaitu Eimeria tenella, dan E. necatrix.

Morfologi

Eimeria tenella

Ookista E. tenella tidak bersporulasi didalam tinja ayam yang terinfeksi. Ookista lebar, berbentuk ovid lebar dan tidak ada perbedaan nyata dari lebar kedua ujung. Ukurannya sangat bervariasi, panjang berkisar antara 14-31 mikron, lebar 9-25 mikron, dengan rata-rata panjang 23 mikron dan lebar 19 mikron. Dinding ookista halus, tidak ada mikropil (‘micropyle’) pada ujung yang lebih kecil.

Ookista yang disimpan dalam suhu kamar dengan suhu dan kelembapan yang cukup membutuhkan waktu untuk bersporulasi dalam waktu kira-kira 48 jam (1-2 hari). Ookista yang bersporulasi mengandung empat sporokista dan masing-masing sporokista mengandung dua sporozoit. Sporokista berbentuk tanpa residudan berukuran kira-kira lebar 7 mikron dan panjang 11 mikron. Sporokista pada ujung yang lebih kecil terdapat sumbat berbentuk bulat kecil yang mengisi suatu lubang pada dindingnya dan agak menonjol keluar. Sporozoit berbentuk sosis kecil terdapat dua dalam masing-masing sporokista dengan massa bulat hyalin dekat salah satu ujungnya. Gambar 1. E. tenella

Gambar 2. E. tenella

Eimeria necatrix

Spesies ini adalah salah satu parasit yang paling penting pada usus halus ayam. Ookista menyerupai E. tenella berbentuk seperti telur dengan ukuran rata-rata lebar 14,2 mikron dan panjang 16,7 mikron. Dinding ookista halus, tidak berwarna, tanpa mikropil, dan waktu sporulasi 48 jam.

Gambar 3. E. necatrix

Siklus Hidup

Eimeria tenella

Koksidiosis yang disebabkan oleh E. tenella adalah suatu penyakit yang ditularkan dari unggas ke unggas lain melalui ookista yang sudah bersporulasi. Genus Eimeria umumnya mengalami perkembangan siklus hidup secara lengkap didalam dan diluar tubuh induk semangnya dan dapat dibagi menjadi siklus aseksual dan siklus seksual. Siklus hidup ini dikenal dengan tiga stadium yaitu : stadium skizogoni, gametogoni dan sporogoni. Siklus aseksual merupakan stadium skizogoni, siklus seksual meliputi stadium gametogoni. Sedangkan sporogoni adalah stadium pembentukan spora.

Siklus aseksual dimulai dari ookista (stadium yang sangat resisten)  yang dikeluarkan bersama-sama tinja dari ayam yang terinfeksi. Pada saat itu, ookista belum infektif tetapi pada kondisi kelembapan dan kehangatan yang optimal (25-290C) dan oksigen yang cukup ookista E. tenella akan mengalami sporulasi dalam waktu 24-48 jam dalam suhu kamar sampai terbentuk sporokista. Ookista yang telah bersporulasi infektif tertelan oleh ayam yang rentan sehingga terbentuk sporokista yang didalamnya terdapat badan-badan kecil berbentuk sosis kecil yang disebut sporozoit. Dalam usus, sporozoit ini keluar dari dinding ookista kemudian memasuki sel-sel epitel usus. Disitulah terjadi perkembangan sporozoit lalu menjadi skizon. Kemudian skizon ini menghasilkan bentuk-bentuk kecil seperti buah pisang yang disebut merozoit. Perkembangan dan aktivitas merozoit dalam sel-sel epitel usus menyebabkan robeknya sel-sel epitel dan menyebabkan pembebasan merozoit-merozoit kedalam lumen usus. Selanjutnya merozoit bebas tersebut memasuki sel-sel epitel baru dan membentuk skizon generasi kedua. Skizon generasi kedua ini membentuk merozoit generasi kedua yang kemudian menjadi skizon lagi. Siklus ini diulang sampai terbentuk merozoit generasi ketiga sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus.

Siklus seksual berlangsung setelah melalui siklus aseksual yaitu siklus yang ditandai dengan dimulainya mikrogametosit dan makrogametosit. Setelah mikrogamet dan makrogamet bertemu didalam usus, maka akan terbentuk zigot. Dari zigot dibentuk ookista. Ookista ini akan keluar dari tubuh bersama tinja dan membentuk sporokista, masing-masing sporokista berisi dua sporozoit. Jika ookista yang telah bersporulasi tersebut tertelan oleh unggas yang rentan maka terjadi infeksi. Waktu yang dibutuhkan untuk siklus hidup Eimeria pada unggas sangat bervariasi, berkisar antara 1-5 hari.

Eimeria necatrix

Siklus permulaan dari sporozoit sama dengan E. tenella, sporozoit melalui ujung villi epitel masuk kedalam lamina propia dan bermigrasi menuju muscularis mukosa. Selama migrasi ini kebanyakan sporozoit ditelan oleh makrofag dan dibawa kedalam sel-sel epitel fundus dari crypta Lieberkuhn. Generasi pertama skizon terdapat di sebelah proximal inti sel induk semang, merozoit-merozoit terlihat dalam lumen 2-3 hari sesudah infeksi, kemudian memasuki sel-sel yang berdekatan dan berkembang menjadi skizon generasi kedua. Stadium E. necatrix relatif besar dan sel epitel yang mengandung skizon yang berkembang ini meninggalkan epitelnya lalu bermigrasi ke jaringan sub epitel dan kadang-kadang kedalam jaringan sub mukosa. Skizon generasi kedua relatif besar, berukuran panjang 63 mikron dan lebar 49 mikron, dapat dibedakan dari skizon spesies koksidia lain yang terdapat didalam usus halus. Merozoit generasi kedua dibebaskan pada hari ke 5-6 sesudah infeksi, selanjutnya oleh gerakan peristaltik usus halus dibawa ke sekum. Di sekum merozoit menembus epitel dan mengalami perkembangan menjadi skizon generasi berikutnya atau melanjutkan perkembangan ke siklus gametogoni. Skizon-skizon generasi ketiga kecil dan sel-sel dapat terinfeksi berulang kali sehingga dalam satu sel skizon ini banyak ditemukan. Stadium gametogoni dapat timbul dari merozoit generasi kedua atau ketiga dan letaknya di sebelah distal inti sel induk semang. Masa prepatennya 6-7 hari. Puncak produksi ookista terjadi pada hari ke 8-10 setelah infeksi.

Patogenesis

Eimeria tenella

Koksidiosis pada sekum oleh E. tenella paling sering terjadi pada ayam muda berumur 4 minggu, karena umur tersebut adalah umur yang paling peka. Ayam yang berumur 1-2 minggu lebih resisten, walaupun demikian E. tenella dapat juga menginfeksi ayam yang sudah tua. Ayam yang sudah tua umumnya memiliki kekebalan imunitas akibat sudah terinfeksi sebelumnya. Pada umumnya koksidiosis sekum terjadi akibat infeksi berat dalam waktu yang relatif pendek tidak lebih dari 72 jam. Pada ayam umur 1-2 minggu diperlukan 200.000 ookista untuk menyebabkan kematian, dan diperlukan 50.000-100.000 ookista untuk menyebabkan kematian pada ayam yang berumur lebih tua.

Pada kelompok ayam, mula-mula gejala terlihat 72 jam setelah infeksi. Ayam terkulai, anoreksia, berkelompok agar badannya hangat dan sekitar hari ke-4 sesudah infeksi terdapat darah didalam tinja. Darah paling banyak ditemukan pada hari ke-5 dan ke-6 sesudah infeksi dan menjelang hari ke-8 atau ke09 ayam sudah mati atau dalam tahap persembuhan. Kematian paling tinggi terjadi antara hari ke-4 dan ke-6 karena kehilangan banyak darah. Kematian kadang-kadang terjadi tanpa diduga. Jika ayam sembuh dari penyakit akut maka penyakit akan bersifat kronis.

Eimeria necatrix

Parasit E. necatrix cenderung menyebabkan penyakit yang lebih kronis daripada E. tenella dan menyerang ayam yang lebih tua, tetapi dapat menimbulkan penyakit pada ayam muda. Lesion utama ditemukan sepertiga bagiam usus halus yang ditengah. Pada keadaan akut terjadi hemoragi berat pada sub mukosa hari ke-5 dan 6, dinding usus bengkak, hemoragi dan penuh berisi darah yang tidak membeku. Pendarahan ini berhubungan dengan skizon generasi kedua yang besar dan terletak didalam, yang kadang-kadang terlihat sebagai titik-titik putih buram yang dikelilingi daerah hemoragi. Terjadi pendarahan yang hebat, juga darah ditemukan didalam sekum sehingga dapat dikelirukan dengan infeksi E. tenella. Infeksi kedua spesies ini dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Pada infeksi ringan terlihat bintik-bintik putih yang tersebar pada usus dan menunjukan koloni-koloni skizon yang dikelilingi oleh suatu zona (daerah) hemoragi petchial, tetapi tidak terlihat ada pendarahan yang besar kedalam lumen usus. Berbeda dengan infeksi E. tenella, ayam-ayam yang sembuh dari serangan E. necatrix dapat terlihat kurus selama beberapa minggu atau beberapa bulan setelah sembuh.

Gejala Klinis

Gejala klinis mulai tampak ketika skizon generasi kedua menjadi besar dan merozoit keluardari epitel sehingga terjadi pendarahan dimana-mana dalam sekum.pendarahan pada tinja pertama-tama ditemukan pada hari ke-4 atau hari ke-5 sesudah infeksi. Hewan tampak lesu, mengantuk, sayap terkulai, tampak bulu terkotori oleh darah dan pendarahan hebat terjadi pada hari ke-5 dan ke-6. Nafsu makan sangat berkurang sedangkan nafsu minum 2 atau 3 kali lebih banyak daripada biasanya, sehingga hewan menjadi kurus, depresi dan bulubya kusut. Kematian paling tinggi terjadi antara hari ke-4 sampai hari ke-6 sesudah infeksi. Kemudian gejala-gejala tampak menurun. Ookista mulai ditemukan dalam tinja pada hari ke-7 setelah infeksi bila hewan tersebut masih hidup. Jumlah ookista pada tinjanya maksimal pada hari ke-8 dan ke-9, kematian akan berkurang dengan cepat. Pada hari ke-11 masih ditemukan ookista tetapi jumlahnya sangat sedikit.

Diagnosis

Diagnosa koksidiosis pada ayam didasarkan pada sejarah, gejala klinis, lesion nekropsi, pemeriksaan feses dengan metode flotasi untuk melihat ookista koksidia dan pemeriksaan mikroskopis untuk mencari koksidia dalam jaringan. Namun, yang paling baik dilakukan adalah dengan pemeriksaan post mortem. Diagnose dengan pemeriksaan tinja saja dapat menimbulkan kesalahan-kesalahan. Terdapatnya ookista yang banyak dalam telur tidak selalu menunjukan gejala patologis yang berat karena identifikasi ookista dari berbagai spesies koksidia ayam tidak mudah. Lokasi lesion banyak memberikan petunjuk mengenai spesies koksidia yang terlihat. Jika lesion hemoragi yang terjadi dipertengahan usus diduga akibat infeksi E. necatrix sedangkan jika pendarahan terjadi di sekum diduga akibat infeksi E. tenella, yang lokasi hemoragisnya ada pada rectum maka diduga akibat infeksi E. brunetii. Diagnose adanya koksidiosis tidak cukup dengan melihat ookista saja, karena ookista tidak selalu dapat ditemukan pada usus ayam. Jika belum ada ookista perlu ditunjukan adanya skizon yang banyak terdapat pada jaringan sub epitel yang dapat menimbulkan patogenitas.

Pencegahan dan Pengendalian

Koksidiosis dapat dicegah dengan melakukan sanitasi, pengelolaan liter dan pengelolaan sampah yang baik. Hindari kondisi liter yang basah terutama pada bagian bawah tempat air minum. Ookista koksidia sangat tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras dan desinfektan yang umum digunakan. Penggunaan obat-obatan anti koksial atau vaksinasi tidak pernah menjadi sebagai praktek managemen yang baik. Obat antikoksidial biasanya ditambahkan pada pakan unggas sebagai tindakan preventif terhadap penyakit ini. Obat-obatan ini bekerja membunuh dan menghentikan perkembangan parasit. Beberapa obat-obatan seperti Inophors-Coban, Avatec menyebabkan unggas memiliki kekebalan terhadap parasit tersebut, oleh karena itu jenis obat anti koksidia harus diubah untuk mengurangi terjadinya resistensi terhadap satu jenis obat.

Obat-obatan anti koksidia dalam pakan tidak menjamin bahwa unggas-unggas memakannya, karena apabila cuaca panas atau masalah penyakit lain akan menyebabkan burung berhenti makan. Pengobatan koksidiosis digunakan untuk mengendalikan wabah. Amprolium, sulfamethoxine dan sulfaquonoxaline efektif untuk pengobatan terhadap koksidia, namun perlu diperhatikan toksisitas dan withdrawl time ketika menggunakan obat-obatan dari golongan sulfa.

Pengobatan

Pengobatan segera dilakukan setelah diagnosa koksidiosis diketahui. Pengobatan secara terputus lebih memuaskan dengan obat-obatan sulfa daripada pengobatan secara terus menerus, tujuannya adalah untuk menghindari konsentrasi obat yang tidak diinginkan yang dapat menghambat perkembangan awal parasit sehingga yang dengan sendirinya mengganggu pembentukan imunitas. Untuk menghindari hal ini dianjurkan untuk memberikan sodium sulfamethazine, sulfadimidine, konsentrasi 0,2% dalam air minum untuk 2 periode masing-masing 3 hari dipisahkan dan 2 hari tanpa pengobatan. Sodium sulfaquinoxalin diberikan dalam makanan dengan konsentrasi 0,5%, nitofurazon dengan furazolidon konsentrasi 0,0126% diberikan selama tujuh hari dan dapat diulangi setelah interval 5 hari.

Sulfonamide memiliki kekuatan koksidiostat yang lebih baik daripada efek koksidiosidal, sehingga tidak memiliki efek pengobatan secara langsung tetapi dapat menghambat permulaan penyakit pada kelompok lain. Obat-obatan ini aktif terhadap stadium skizon generasi kedua dari E. tenella dan E. necatrix. Konsentrasi yang lebih tinggi merusak skizon generasi pertama tetapi dosis yang lebih tinggi diperlukan untuk merusak stadium gametositik. Beberapa obat yang sering dipakai dan bersifat koksidiostat atau koksidiosidal yaitu sulfadimidine (Sulfamethazine) diberikan dalam  pakan dengan konsentrasi 0,4% atau dalam air minum 0,2%. Aktif terhadap E. tenella, E. necatrix dan spesies koksidia lain.

Toksisitas menyebabkan waktu pembekuan darah lebih lama, kemungkinan disebabkan oleh terganggunya sintesis vit K dalam usus. Unggas jantan yang diberi dengan dosis tinggi menunjukan hyperplasia dari tubulus seminiferous testis sedangkan pada ayam betina produksi telur menurun.

Sulfaquinoxaline adalah koksidiostat yang paling efektif dan umumnya digunakan diseluruh dunia. Untuk pencegahan digunakan dosis 0,05 dalam air minum dengan periode yang cukup lama sedangkan untuk pengobatan dosis yang digunakan adalah 0,5% dalam pakan atau 0,43% dalam air minum dua kali pengobatan masing-masing 2 hari dengan interval 3-5 hari memberikan hasil yang memuaskan. Sulfaquinoxaline telah digunakan terutama untuk infeksi E. tenella dan E. necatrix tetapi juga efektif terhadap E. acervulina. Sulfaquinoxaline konsentrasi 0,006% dalam pakan lebih efektif terhadap koksidia ayam daripada penggunaan masing-masing senyawa tersebut.

Zoalen baik digunakan sebagai pencegahan dengan dosis 0,01-0,015% dalam pakan dan bersifat aktif terhadap koksidia sekum dan usus halus. Zoalen menghambat perkembangan generasi kedua skizon tetapi pada kondisi lapangan tidak menghambat perkembangan imunitas.

Nitrofurazone (Furacine, Furazol) berperan sebagai koksidiostat dan juga berperan sebagai bakteriostatik karena aktif terhadap bakteri gram negative. Untuk pencegahan dosis yang dianjurkan adalah 0,005-0,0126% dalam pakan atau air minum. Untuk pengobatan dosis yang digunakan adalah 0,022% tetapi apabila konsentrasi ini diteruskan lebih dari 10 hari akan terlihat efek keracunan berupa kegelisahan. Gabungan antara 0,005% nitrofurazone dengan 0,008% furazolidone memiliki efek koksidiosidal terhadap E. tenella dan E. necatrix.

Furazolidone, senyawa ini telah digunakan untuk infeksi bakteri penyebab enteritis tetapi efektif juga terhadap E. tenella dosis 0,011 atau 0,0055% dalam pakan. Biasanya diberikan gabungan dengan nitrofurazone seperti dosis yang disebutkan diatas terutama untuk infeksi yang disebabkan E. tenella.

Nicarbazine, senyawa ini terutama digunakan sebagai pencegahan sedangkan dosis pengobatan hampir mendekati dosis toksik. Nicarbazine biasanya didapat sebagai 22,5% premix dan dimasukan dalam pakan dengan konsentrasi 0,0125%. Senyawa ini efektif terhadap E. tenella, E. necatrix dan E. acervulina dan tidak menghalangi pembentukan imunitas. Obat ini baik diberikan pada ayam broiler dan biasanya diberikan pada 12 minggu pertama. Tidak baik diberikan untuk ayam petelur karena mempengaruhi warna dan daya tetas telur.

Toksisitas sudah dapat terlihat pada konsentrasi 0,003% atau lebih. Terlihat gangguan bertelur, telur tidak berpigmen, kuning telur berbintik-bintik dan daya tetas menurun. Ataksia terlihat apabila diberikan dosis 0,05-0,1% dalam pakan selama 3 minggu. Apabila mati keracunan terdapat degenerasi epitel tubulus ginjal dan sel hati.

Nitrophenide, dosis yang digunakan dilapangan adalah 0,025% memiliki efek koksidiostat yang baik terhadap E. tenella dan E. necatrix. Efek maksimum terlihat apabila diberikan 49-96 jam sesudah terjadi infeksi, diduga obat ini menghambat skizon generasi kedua. Perbedaan dosis toksik dan pengobatan adalah kecil dan kematian dapat terjadi dengan konsentrasi 0,16% dalam pakan. Dosis 0,04% dalam pakan yang diberikan terus menerus selama 4-12 minggu tidak mempengaruhi pertumbuhan, produksi telur atau daya tetas telur.

Unistat dengan konsentrasi 0,1% dalam pakan mencegah kematian pada infeksi berat dengan E. tenella, E. necatrix dan E. acervulina.

Polystat merupakan senyawa yang aktif terhadap E. tenella dan E. necatrix dosis 0,02% dalam pakan.

Beberapa antibiotik aktif terhadap infeksi E. tenella yaitu aeromycine, chloramphenicol, erythromycin, spiromycin, dan terramycin. Antibiotik spiromycine memberikan efek yang paling memuaskan.

Kesimpulan

Koksidiosis pada ayam disebabkan oleh E. tenella dan E. necatrix. Protozoa ini dapat menimbulkan kerugian bagi peternak karena menyebabkan penurunan produksi dan kematian. Tindakan Pengendalian dan pengobatan yang tepat diperlukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain perbaikan sanitasi, vaksinasi, dan pemberian koksidiostat dalam pakan. Obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengatasi koksidia pada ayam antara lain Sulfonamide, Sulfaquinoxaline dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Anonim. 2009. Eimeria Infections in Poultry. http://www.baycox.com/32/Eimeria_Infections_in_Poultry.htm- [28 Maret 2010]

Helm, J.D. 1999. Coccidiosis in Poultry. http://www.clemson.edu/public/lph/ahp/disease_links/images/coccidia.pdf [28 maret 2010]

Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals 7th ed. Bailliere, Tindall and Cassell. London.

Tampubolon, M.P. 2004. Protozoologi. Bogor : Pusat Studi Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor.

Both comments and trackbacks are currently closed.