PSOROPTES


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

  • Phylum: Arthropoda
  • Class: Arachnida
  • Subclass: Acari
  • Ordo: Acariformes
  • Subordo: Astigmata
  • Family: Psoroptidae
  • Genus: Psoroptes
  • Species: Psoroptes ovis

Morfologi:

Astigmata berarti tidak mempunyai lubang pernafasan. Tungau ini akan bernafas melalui permukaan tubuhnya yang lembut. Permukaan yang lembut dilindungi oleh beberapa keping ventral diantara bagian tubuh yang lain.

Tungau Psoroptidae berbentuk bulat lonjong (oval) dan tidak terdapat duri-duri pada bagian dorsalnya. Pada dorsum propodosoma juga tidak dijumpai setae yang vertikal. Kaki-kaki tungau ini panjang dan keluar melampaui batas tubuh. Pada tarsi kaki-kaki tertentu terdapat karunkula (alat penghisap berbentuk genta) yang ditunjang oleh sebuah tungkai (pedicle). Tangkai alat penghisap tersebut panjang dan beruas tiga. Anus letaknya diujung, sedangkan pada jantan mempunyai aat penghisap adanal (copulatory disc). Pada batas bagian posterior perut tungau jantan terdapat dua gelambir (lobus) yang menonjol.

Siklus hidup:

Tungau ini tidak masuk membuat terowongan di dalam kulit induk semang tetapi sebagai parasit yang hidup di lapisan-lapisan permukaan kulit dan menyebabkan pembentukan kerak kudis yang tebal. Telurnya diletakkan pada kulit di pinggir luka dan dalam waktu 1-3 hari telur tersebut menetas. Telur yang terlepas dari kulit oleh kerak menetas lebih lama yaitu 4- 5 hari. Telur yang telepas bersama-sama bulu wol bahkan menetas dalam waktu 10 hari atau telur tersebut mati. Larva mencari makan dan dalam waktu 2-3 hari berganti kulit menjadi nimfa. Stadium nimfa berlangsung 3-4 hari. Nimfa yang ukurannya kecil biasanya menjadi tungau jantan, yang betina gendut dan muncul sebelum yang jantan dalam waktu 5-6 hari terhitung mulai saat menetas. Perkawinan terjadi sesudah pergantian kulit selama satu hari. Sebelum bertelur tungau betina berganti kulit sekali lagi. Betina dapat hidup sampai 30-40 hari dan bertelur 5 butir tiap hari dengan jumlah total 90 atau lebih (Hadi dan Soviana 2000).

Masalah yang ditimbulkan:

Tungau ini meyebabkan kudis pada bagian-bagian tertentu seperti kaki, ekor dan leher.

Pengendalian:

Domba dapat diobati dengan suntikan ivermectin, doramectin, moxidectin, atau dengan acarisida spray/dipping. Hewan harus dikarantina untuk mencegah penyebaran tungau.

DAFTAR PUSTAKA

Bowman D D. 1999. Georgis’ Parasitology for Veterinery. 8th Ed. Saunders an Imprint of Elsevier Science.

Hadi U K dan Soviana S. 2000. Ektoparasit; Pengenalan, Diagnosa, dan Pengendaliannya. Laboratorium Entomologi. FKH IPB.

Levine N D. 1990. Parasitologi Veteriner. Terjemahan Gatut Ashadi. Gajah Mada University Press.

Both comments and trackbacks are currently closed.