Laporan Pemeriksaan Hasil Nekropsi


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Signalement

Jenis Hewan                            : Anjing

Ras                                              : Lokal

Nama Hewan                          : Tori

Jenis Kelamin                         : Betina

Umur                                         : 1 tahun

Warna Bulu                             : Putih-Hitam

Tanggal Mati                          : 22 Mei 2010

Tanggal Nekropsi                  : 25 Mei 2010

Nama Pemilik                          : NN

Alamat Pemilik                       : Jakarta Selatan

Anamnese

Digigit Anjing lain.

PEMBAHASAN

Hasil pemeriksaan  keadaan luar, anjing ini mengalami luka-luka sebanyak 25 luka gigitan pada ventral abdomen, kelenjar mamae, bagian lateral paha kiri dan kanan, hingga ke bagian dada. Jenis luka ini dinamai vulnus morsum karena berasal dari gigitan anjing lain. Luka yang terjadi cukup parah menembus hingga ke kelenjar mamae dan menyebabkan hemoragi (mastitis hemoragika). Pemeriksaan pada mukosa, semua mukosa mengalami kepucatan sebagai tanda terjadinya anemia. Jenis anemia berdasarkan penyebabnya pada anjing dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Anemia Regenarative : anemia yang disebabkan peningkatan hilangnya sel Darah Merah (RBC). Pada kasus perdarahan kronik dari gastrointestinal ulcerative, enteritis, coccidiosis, neoplasia dan haemofilia; parasit darah seperti, hookworm, nodular worm; ektoparasit : caplak; infeksi oleh Babesia spp.

2.    Anemia Non-Regenerative ; anemia yang terjadi karena adanya penurunan atau kelaianan pada pembentukan sel Darah Merah (RBC). Pada kasus terdepresnya fungsi sumsum tulang sebagai tempat pembentukan RBC. Defisiensi nutrisi, penyakit parasit dan penyakit infeksius yang menganggu fungsi sumsum tulang; defisiensi zat besi, kobalt, protein, thiamin, riboflavin dan cyanocobalami;. Infeksi trichostrongylosis; hypotyriodism; chronic interstitial nephritis pada anjing (Kelly 1984).

Pada kasus ini anjing mengalami anemia regeneratif yang disebabkan oleh hemoragi pada luka gigitan dan infestasi Ancylostoma caninum di usus halus. Pemeriksaan pada mata kanan ditemukan eksudat yang disertai memerahnya konjungtiva. Menurut Tilley & Smith  2004, konjungtivitis ini dapat terjadi baik secara primer seperti pada kasus alergi, infeksi, lingkungan dan keratoconjunctivitis sicca maupun sekunder karena adanya penyakit mata atau penyakit sistemik ( glaucoma, uveitis, pneumonia, immune-mediated disease, neoplasia dll.), pada kasus ini konjungtivitis dapat disebabkan oleh infeksi sekunder bakteri yang berasal dari luka-luka gigitan, iritasi lingkungan atau pneumonia.

Pemeriksaan subkutis ditemukan timbunan sedikit lemak yang menandakan bahwa anjing ini mengalami kekurusan (kaheksia). Pemeriksaan otot ditemukan timbunan nanah di m. intercostalis sebagai respon peradangan dari infeksi bakteri yang diawali oleh adanya luka gigitan. Di bagian anterior m. tibialis juga ditemukan luka gigitan yang mengakibatkan memar dan pendarahan (myositis hemoragika). Begitupun dengan kelenjar mamae ditemukan mastitis hemoragika akibat dari luka gigitan.

Hampir semua limfonodus, kecuali limfonodus poplitea dan femoralis sinistra, mengalami limphadenitis. Peradangan ini merupakan respon  perlawanan regional terhadap mikroorganisme dan toksin limfonodus-limfonodus di seluruh tubuh sehingga akan terjadi peradangan limfonodus (limphadenitis). limphadenitis ditandai dengan pembengkakan, kemerahan dan kebasahan bidang sayatan pada limfonodus-limfonodus lokal.

Pemeriksaan rongga abdomen ditemukan sejumlah cairan yang menandakan terjadinya hidropsascites. Hidropsascites pada anjing ini terjadi akibat hipoalbuminemia/hipoproteinemia (hepatitis nekrotikan dan helminthiasis) dan retensi garam dan air. Kegagalan sel hati untuk menginaktifkan aldosteron dan hormon antidiuretik merupakan penyebab retensi Na dan air. Faktor yang turut terlibat dalam  pathogenesis ascites pada hepatitis nekrotikan  adalah ; (1) hipertensi porta, (2) hipoalbuminemia, (3) meningkatnya pembentukan dan aliran limfe hati, (4) retensi natrium, (5) gangguan eksresi air. Adanya resistensi terhadap aliran darah melalui hati menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dalam jaringan  pembuluh darah intestinal. Hipoalbuminemia terjadi karena menurunnya sintesis yang dilakukan  oleh sel-sel hati. Hipoalbuminemia menyebabkan menurunnya tekanan osmotic koloid. Kombinasi antara peningkatan tekanan hidrostatik dan penurunan tekanan osmotic koloid dalam jaringan pembuluh darah intestinal menyebabkan terjadinya transudasi cairan dari ruang intravascular ke ruang interstitial. Hipertensi porta kemudian meningkatkan pembentukan limfe hepatic dari hati ke rongga peritoneum, mekanisme ini dapat dapat menyebabkan  tingginya  kandungan protein dalam cairan ascites. Retensi Na  dan gangguan eskresi air merupakan faktor penting dalam berlanjutnya ascites, retensi Na dan air disebabkan oleh hiperaldosteronisme. Penurunan inaktivasi  oleh hati juga dapat terjadi akibat kegagalan hepatoselular (Price & Wilson 1999).

Pemeriksaan traktus respiratorius, pada lumen trakea ditemukan busa hingga ke bronchus. Adanya busa merupakan hasil dari campuran antara cairan udem dengan udara. Edema pulmonum pada anjing ini terjadi akibat hipertropi ventrikel kiri. Hipertropi ventrikel kiri akan menyebabkan terjadinya tahanan pada vena pulmonum, sehingga darah akan tertahan pada vena pulmonum, tahanan pada vena pulmunom  ini akan menyebabkan tekanan pembuluh kapiler di paru-paru meningkat, cairan plasma akan keluar dan  memasuki ruang interstitial paru-paru dan alveoli, sehingga terjadi edema paru-paru (Price & Wilson 1999).

Warna paru-paru semua lobus dextra merah gelap, krepitasi sedikit, dan uji apung tenggelam. Sedangkan warna paru-paru semua lobus sinistra merah, krepitasi ada, dan uji apung mengapung. Hal ini menandakan terjadinya pneumonia alveolaris lobar dextra dan pneumonia interstisialis lobar sinistra.

Pemeriksaan traktus digestivus, lambung berisi gumpalan rambut dan serpihan tulang ayam. Mukosa lambung mengalami penebalan disertai ulkus dan eksudat catarhal. Gastritis catarhalis et ulcerativ pada anjing ini disebabkan oleh iritasi dari serpihan tulang ayam yang tidak tercerna. Di bagian usus ditemukan dua jenis cacing yaitu Dypilidium caninum dan Ancylostoma caninum.

Dypilidium caninum merupakan cestoda yang mempunyai proglotid seperti biji mentimun, skoleknya dilengkapi dengan 4 alat penghisap tanpa duri dan dengan rostelum yang dihiasi 34 baris kait. Segmen gravid yang mengandung telur lepas bersama tinja. Larva dari Ctenocephalides canis dan pulex iritans menelan telur cacing yang selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid sesudah pinjal ini dewasa. Infeksi terjadi bila anjing menelan pinjal yang mengandung sistiserkoid.

Ancylostoma caninum dalam mukosa usus halus dapat mengakibatkan  beberapa perubahan patologi dan faali. Perubahan-perubaha patologik dan faal tersebut meliputi anemia, radang usus ringan sampai berat, hipoproteinemia, terjadinya gangguan penyerapan makanan dan terjadinya penekana terhadap respon imunitas dari anjing. Oleh gigitan cacing, yang sekaligus melekat pada mukosa, segera terjadi perdarahan yang tidak segera membeku karena toksin yang dihasilkan oleh cacing. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah tempat gigitannya hingga terjadilah luka-luka yang mengucurkan darah segar. Tiap ekor cacing dewasa A caninum dapat menyebabkan kehilangan darah 0,05-0,2 ml/hari, A braziliense 0,001 ml, dan Ustenocephala 0,0003 ml. darah yang mengucur ke dalam lumen akan keluar bersama tinja dan karena adanya darah tersebut tinja menjadi berwarna hitam. Pengeluaran tinja bercampur darah tersebut biasa disebut melena.
Cacing  ini termasuk dalam kategori pengisap darah sedang yang akibat akhirnya berupa anemia berat. Anemia yang timbul pada awalnya bersifat normositik normokromik, yang kemudian oleh hilangnya zat besi anemianya akan berubah menjadi hipokromik mikrositik.

Anak anjing muda maupun anak kucing sangat rentan terhadap infeksi oleh cacing tambang karena pada umur 2-4 minggu persediaan Fe akan merosot yang disebabkan makanan utama anak anjing adalah air susu yang memang sangat kecil kandungan Fe nya. Anak anjing yang terinfeksi berat, segera mengalami anemia akut. Perdarahan usus terjadi pada hari ke 8 pasca infeksi dan pada akhir minggu ke 3 pasca infeksi penderita kehilangan darah setiap harinya setara dengan 20 % dari total volume eritrositnya. Pada anjing dan kucing dewasa hilangnya darah sebagian terkompensasi oleh kegiatan eritropoesis. Infeksi anjing oleh A braziliense dan U stenocephala tidak megakibatkan perdarahan  hebat seperti pada infeksi oleh A caninum. Infeksi kedua spesies tersebut cenderung lebih banyak ditandai oleh hipoproteinemia, radang usus, dan atrofi parsial villi intestinales. Hilangnya vili usus halus juga dialami oleh anjing yang terinfeksi A caninum dan mengakibatkan gangguan absorbsi makanan. Adanya parasit dewasa dalam jumlah kecil sampai sedang mampu menimbulkan kekebalan (imunitas terbatas) hingga penderita tahan terhadap infeksi larva selanjutnya. Infeksi larva dalam jumlah besar akan melampaui ketahanan tubuh dan hewan akan mengalami parasitosis. Oleh adanya self cure, penderita sembuh dengan sendirinya dan tidak menimbulkan gejala anemia. Pada umur tertentu, sekitr 8 bulan, terbukti bahwa anjing mampu mengatasi tantangan infeksi larva infektif. Di daerah endemik, penggunaan obat cacing sebagai pengobatan rutin, misalnya setiap 3-6 bulan sekali sangat dianjurkan (Anonim 2008).

Pemeriksaan pada hati, ukuran hati terlihat membesar, warna tidak homogen dan ditemukan spot-spot putih pada permukaan hingga ke dalam  bidang sayatan. Hal ini merupakan tanda terjadinya hepatitis nekrotikan miliaris. Hati yang mengalami nekrosa akan mengakibatkan gangguan berbagai fungsi. Pada kasus ini hidropsascites yang terjadi dapat disebabkan oleh gangguan sintesis albumin oleh hati. Terjadinya nekrosa hati menyebabkan produksi albumin berkurang. Secara umum anjing mengalami hipoalbuminemia dan hipoproteinemia. Kondisi ini akan mengakibatkan banyak air yang tidak terikat oleh protein sehingga terjadilah hidropsascites.

Pankreas pada anjing ini terlihat kemerahan (pankreatitis), fungsi dari pankreas adalah sebagai sumber hormon  insulin dan enzim. Beberapa enzim yang dikeluarkan oleh pankreas antara lain adalah lipase dan fosfolipase untuk metabolisme lemak, amilase untuk metabolisme karbohidrat, juga tripsin dan kimotripsin untuk metabolisme protein. Pankreatitis disebabkan karena oleh insufiensi vascular, cedera hipoksia akibat kekurangan darah pada awalnya akan mengenai asinus bagian perifer lobulus. Selanjutnya akan terjadi pelepasan enzim proteolitik dan menyebabkan kerusakan yang lebih lanjut dan timbul pankreatitis difus secara cepat. Akibatnya kelenjar menjadi bengkak dan sering terjadi pendarahan apabila proses peradangan berat. Peradangan pada pankreas disebabkan oleh enzim-enzim lipase, amilase dan tripsin yang membantu proses pencernaan makanan tetap diproduksi namun tidak ada asupan makanan yang masuk ke lambung dan usus, karena terjadinya pankreatitis.

Pemeriksaan otot jantung berwarna pucat (epikard hingga endokard), terdapat gumpalan darah di ventrikel kanan dan chicken fat clot, ventrikel kiri m. papilaris menebal, trabecula cordis dangkal. Semua tanda ini menunjukkan bahwa jantung mengalami cardiomyopathy. Cardiomyopathy adalah kelainan primer miokard yang menyebabkan gangguan fungsi miokard, dengan penyebab yang tidak diketahui dan bukan disebabkan oleh penyakit bawaan, hipertensi, kelainan katup, sklerosis koroner atau kelainan perikard. Pembagian cardiomyopathy bermacam-macam, berdasarkan kepada etiologi, patologi, genetika, klinik, biokimia, fungsi hemodinamik dan sebagainya, tetapi tidak ada satu pun yang memuaskan karena banyak tumpang tindih. Secara umum cardiomyopathy digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu cardiomyopathy primer yang tidak diketahui penyebabnya dan cardiomyopathy sekunder yang disebabkan oleh infeksi, kelainan metabolik, penyakit sistemik, herediter familial, reaksi sensitivitas dan toksin. Pembagian cardiomyopathy yang banyak dianut saat ini adalah menurut Goodwin yang berdasarkan kelainan struktur dan fungsi (patofisiologi), yaitu cardiomyopathy, hipertropik, cardiomyopathy dilatatif dan cardiomyopathy restriktif. Anjing ini mengalami cardiomyopathy hipertrofik, ventrikel meregang sehingga terjadi gagal jantung. Pada miopati hipertrofik ini, otot jantung menebal, terutama di sepanjang septum intraventrikel. Hal ini menyebabkan ventrikel menjadi kaku, sehingga compliance dan pengisian diastolik berkurang. Cardiomyopathy yang dialami oleh anjing ini menyebabkan ventrikel kiri tidak mampu untuk berkontraksi secara maksimal sebelum terjadinya rigor mortis, sehingga pada saat mati di ventrikel kiri ditemukan adanya sisa darah.

Chicken fat clot merupakan manifestasi dari hiperleukositosis menunjukkan adanya peradangan hewan. Peradangan tersebut diantaranya hepatitis, nefritis kronis, myositis, mastitis dan gasteroenteritis.

Pemeriksaan ginjal terlihat bahwa ukuran ginjal kanan lebih besar daripada ginjal kiri, kapsula melekat di beberapa bagian, dan terdapat bentuk segitiga berwarna merah gelap pada bagian korteks. Ginjal seperti ini tanda mengalami nephritis interstsialis dan disertai infark pada bagian korteks. Terjadinya infark bisanya diawali oleh kondisi iskemia. Kurangnya suplai oksegen ke jaringan mengakibatkan infark yang akan berlanjut menjadi nekrosa.

Lumen uterus terlihat putih merupakan tanda dari nekrosa. Nekrosa pada endometrium ini diawali terjadinya endometritis kronis yang dapat disebabkan oleh bakteri seperti E. coli, Staphylocccus, Streptococcus, dan micrococcus.

Pada otak ditemukan dilatasi pembuluh darah otak atau disebut sebagai vasa injectio. Vasa injectio pada otak merupakan kelain patologis yang menunjukkan terjadinya aktivasi dan dilatasi pembuluh darah otak. Dilatasi yang terjadi dipembuluh darah otak dapat disebabkan oleh emboli ataupun thrombus yang menutupi pembuluh darah sehingga menyebabkan penyumbatan. Penyumbatan pada pembuluh darah otak akan menyebabkan tertahannya aliran darah, sehingga menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Dengan adanya penyumbatan maka akan menyebabkan otak tidak mendapatkan suplai darah yang cukup. Gangguan suplai darah ke otak akan menyebabkan kerusakan sel-sel otak, sehingga dapat mengakibatkan depresi sistem saraf, terutama yang menginervasi organ jantung dan paru-paru.

Pemeriksaan otot pada m. intercostalis terdapat timbunan nanah (myositis supuratif) dan m. tibialis anterior memar disertai darah (myositis hemoragika).

Kondisi ini sebagai akibat dari luka gigitan dari anjing lain.

KESIMPULAN

Terjadinya beberapa perubahan anatomi seperti nephritis yang disertai infark, pneumonia, cardiomyopathy (nekrosa epikard-endokard) dan  hepatitis nekrotikan  dapat disebabkan oleh emboli. Emboli yang terjadi bisa diakibatkan oleh gumpalan darah atau nondarah (bakteri). Akibatnya,  komplikasi yang terjadi adalah anemia jaringan lokal (iskemia) dan kematian jaringan lokal (infark) yang akan berlanjut menjadi nekrosa. Jantung yang mengalami cardiomyopathy menjadi atrial mortis karena menurunya fungsi jantung akan berakibat pada penurunan  cardiac output sehingga berbagai organ akan mengalami pengurangan pasokan oksigen dan nutrisi.

Diagnosa Kausalis     : Edema pulmonum, pneumonia alveolaris lobar dextra, Pneumonia interstisialis lobar sinistra, Enteritis helminthiasis, Hepatitis nekrotikan miliaris, Cardiomyopathy.

Atrial mortis              : Jantung

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Ancylostomiasis Pada Anjing. http://www.vet-klinik.com/Table/Artikel/ Ancylostomiasis-Pada-Anjing.html [25 Mei 2010]

Kelly W.R. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis. British Library: London

Tilley & Smith. 2004. The Five Minute veterinary consult Canine & Feline Third Edition. Lippincot William & Wilkins. Philadelphia.

Price & Wilson 1999. Pathophysiology : Clinical Concepts of Disease Processes. The University of Tennesee Health Science Center

Both comments and trackbacks are currently closed.