IDENTIFIKASI BAKTERI DARI SAMPEL SWAB LELE SANGKURIANG


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

PENDAHULUAN

Bakteri memiliki keragaman morfologi, ekologi dan fisiologi tinggi. Rentang lingkungan hidup bakteri sangat luas, mulai lingkungan yang sangat dingin di perairan Artik hingga lingkungan sangat panas seperti celah hidrotermal yang dapat mencapai suhu 1000C. Hingga saat ini baru sekitar 1% dari total bakteri di alam yang sudah dikenal. Di alam bakteri dapat bersifat saprofitik, fotosintetik, ototrofik atau parasitik. Dengan sifatnya tersebut beberapa bakteri dapat berperan dalam daur unsur dan interaksi dengan organisme lain, serta peran lain yang sangat penting (Irianto 2005).

Bakteri pada ikan dapat dijumpai di bagian tubuh eksternal dan saluran pencernaan. Bakteri dapat dijumpai juga pada air pemeliharaan. Sejumlah besar bakteri bersifat menguntungkan bagi ikan karena membantu pencernaan, sintesis vitamin, serta mendekomposisi materi organik di perairan. Sebagian bakteri bersifat patogen oportunistik, pada keadaan biasa bakteri tersebut ada pada lingkungan perairan atau tubuh ikan tanpa menimbulkan penyakit tetapi akan menimbulkan penyakit bahkan kematian apabila terjadi stress atau daya tahan tubuh ikan menurun.

Bakteri dapat menyebabkan penyakit secara mandiri atau bersama-sama satu atau lebih spesies. Di antara bakteri penyebab penyakit, seringkali tanda-tanda visual penyakit yang ditimbulkan mirip. Penyebab penyakit sebenarnya baru dapat diketahui setelah dilakukan tindakan nekropsi yang menguji lebih lanjut penyebab termasuk mengenali bakteri dengan teknik isolasi dan identifikasi. Manajemen yang buruk seringkali menjadi faktor utama munculnya wabah penyakit. Penanganan yang kurang hati-hati dapat menyebabkan rusaknya kulit atau lapisan mukus.

PEMBAHASAN

Bakteri patogen oportunis pada dasarnya bersifat saprofit sehingga memungkinkan diisolasi dan ditumbuhkan pada media buatan untuk keperluan identifikasi ciri karakteristiknya. Ada sejumlah kecil bakteri yang bersifat patogen, meskipun mampu bertahan hidup sementara waktu di air tetapi tidak dapat tumbuh di luar sel inangnya. Sebagian besar bakteri patogen ikan memiliki sel berbentuk batang pendek, bersifat Gram-negatif. Penyakit yang ditimbulkannya menunjukan tanda-tanda tipikal seperti septikemia dan ulkus. Adapun sebagian lainnya bervariasi antara lain sifatnya Gram-negatif atau Gram-positif, bentuk sel kokus atau batang. Austin & Austin (2007) mengidentifikasi 13 kelompok bakteri yang terdiri dari 51 genus, merupakan penyebab utama penyakit infeksi bakterial pada ikan. Genus bakteri tersebut antara lain adalah: Mycobacterium, Aeromonas, Flavobacterium, Pseudomonas dan Vibrio. Penyakit infeksi bakterial pada ikan memiliki waktu inkubasi, tingkat mortalitas dan tanda-tanda klinis bervariasi. Sebagian besar bakteri patogen ikan yang sudah diketahui, dapat ditumbuhkan pada medium buatan di luar tubuh inang.

Gambar 1. Lele Sangkuriang

Dari hasil identifikasi, bakteri yang didapat adalah bakteri 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Bakteri 2=3=5=6. Sehingga ada tiga jenis bakteri yaitu bakteri 1(A), bakteri 4(B) dan bakteri 2&3&5&6(C). Bakteri A merupakan bakteri yang berasal dari genus Aeromonas, hasil identifikasi ini didapat setelah mencocokkan hasil beberapa uji dengan beberapa literatur, diantaranya menurut Markovic et al. (2007), genus Aeromonas memiliki ciri katalase positif, fermentasi glukosa, VP negatif, tidak menghasilkan H2S, indol negatif dan β hemolisis. Bakteri B merupakan bakteri dari genus Moraxella, hal ini dapat diketahui dengan melihat sifat-sifatnya seperti β hemolisis, katalase positif, sitrat negatif, indol negatif, tidak menghasilkan H2S dan VP negatif (Austin & Austin 2007). Bakteri C merupakan bakteri dari genus Plesiomonas. Bakteri ini menurut Austin & Austin (2007) mempunyai ciri indol positif, urease negatif, tidak menghasilkan H2S, MR-VP negatif dan fermentasi glukosa.

Aeromonas merupakan bekteri penyebab hemoragik septikemia pada beragam spesies ikan air tawar. Pada dasarnya Aeromonas merupakan oportunis karena penyakit yang disebabkannya mewabah pada ikan-ikan yang mengalami stres atau pada pemeliharaan dengan padat tebaran tinggi. Gejala klinis akibat infeksi Aeromonas bervariasi, tetapi umumnya ditunjukkan adanya hemoragi pada kulit, insang, rongga mulut, dan ulkus pada kulit yang dapat meluas ke jaringan otot. Sering pula gejala klinis ditunjukkan dengan eksoptalmia, ascites, pembengkakan limpa dan ginjal. Moraxella merupakan bakteri yang juga dapat menimbulkan hemoragi pada otot ikan sedangkan Plesiomonas biasanya dapat memperparah kondisi hemoragi pada ikan.  Ketiga genus tersebut menghasilkan infeksi bakterial yang bersifat campuran pada lele.

Berdasarkan gejala klinis yang nampak dan hasil identifikasi bakteri pada kulit lele yang mengalami perlukaan, maka dapat didiagnosis bahwa lele mengalami haemorrhagic erythrodermatitis ulcerative. Kondisi ini biasanya diawali oleh infeksi dari Aeromonas, sedangkan dua bakteri lainnya yaitu Plesiomonas dan Moraxella merupakan bakteri yang muncul setelah infeksi oleh Aeromonas. Lele yang mengalami kondisi dermatitis haemoragika pada otot tubuh selanjutnya dapat berkembang menjadi ulkus yang dalam. Apabila tidak segera ditangani, maka akan memperparah kondisi lele sehingga dapat menyebabkan septikemia yang berujung pada kematian.

Penyebaran penyakit bakterial umumnya terjadi dari ikan ke ikan lewat media air. Pemacu timbulnya haemorrhagic erythrodermatitis ulcerative pada lele antara lain faktor penanganan, pengangkutan, penangkapan, suhu, kualitas air (oksigen rendah), dan kepadatan kolam. Kejadian penyakit ini akan meningkat karena rendahnya oksigen terlarut dan kandungan amonia yang terlalu tinggi, dan hal ini berlaku sama pada budidaya ikan yang lainnya.

Manajemen penanganan yang dapat dilakukan meliputi pencegahan, perawatan kondisi lingkungan, penanganan lele yang benar dan implementasi dari prosedur perawatan kesehatan yang baik. Pengendalian suhu lingkungan merupakan alat manajemen lingkungan yang penting, khususnya pada bak, sistem mengalir dan akuarium. Overstocking, dengan pakan dan bahan organik yang berlebihan di dalam air harus dihindari karena dapat menyebabkan menurunnya kualitas air.

Treatment yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan desinfeksi pada kolam seperti menggunakan klorin atau senyawa quaternary ammonium pada dosis 0,5-2 ppm. Penggunaan antibiotik untuk pengendalian penyakit telah menimbulkan masalah karena terjadinya resistensi. Salah satu penyebab terjadinya resistensi adalah penggunaan antibiotik pada kadar rendah sebagai upaya profilaktif. Untuk kondisi haemorrhagic erythrodermatitis ulcerative dapat diberikan Panalog® Veterinary Cream atau Silvadene® Cream 1% langsung dioleskan pada luka setiap 12 jam sekali. Enrofloxacin 5mg/kgBB IM/IP setiap 48 jam untuk 15 hari, 0,1% dalam pakan untuk 10-14 hari, atau 2,5 mg/L selama 5 jam diulangi setiap 24 jam untuk 5-7 hari (Flammer et al. 1998).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi bakteri dari lele yang mengalami perlukaan pada kulit, dapat disimpulkan bahwa lele mengalami haemorrhagic erythrodermatitis ulcerative akibat infeksi campuran dari bakteri Aeromonas,Moraxella dan Plesiomonas.

DAFTAR PUSTAKA

Austin B & Austin DA. 2007. Bacterial Fish Patogen: Diseases of Farmed and Wild Fish. Fourth Edition. Springer Praxis. United Kingdom.

Flammer et al. 1998. Antimicrobial Therapy in Exotic Animals. Bayer Corporation. Kansas.

Irianto A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Markovic et al. 2007. Aeromonas Salmonicida In Californian Trout (Oncorhynchus Mykiss, Walbaum, 1792 ) And Some Biochemical Characteristics Of This Bacteria . The Internet Journal of Microbiology. Vol.3(1).

Both comments and trackbacks are currently closed.