Sinusitis pada Kuda


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Definisi

Sinusitis adalah inflamasi pada daerah sinus. Sinusitis sering terjadi bersamaan dengan infeksi pernafasan. Sinusitis juga dapat terjadi sebagai kombinasi dari infeksi gigi, alergi seperti asma, imun sistem menurun, atau penyakit infeksi lainnya.

Kuda memiliki tiga pasang sinus di kepalanya yaitu:

1. Sinus Frontalis

Terdapat di bagian dorsal tengkorak, diantara mata. Jalur drainase menuju hidung melalui caudal sinus maxillaris.

2. Sinus Maxillaris

Terdapat diantara tulang maxilla di atas akar gigi. Masing-masing terdiri atas dua komponen yaitu sinus maxillaris rostralis di bagian depan dan sinus maxillaris caudalis yang terletak di belakangnya. Kedua sinus tersebut tidak saling berhubungan. Seiring dengan bertambahnya umur, sinus maxillaris semakin membesar.

3. Sinus Sphenopalatine

Adalah sinus kecil yang terletak di medial sinus maxillaris caudalis.

Gambar 1. Anatomi Sinus Pada Kuda

Sumber: http://www.petplace.com/horses/sinusitis/page1.aspx

Sinusitis dapat terjadi pada semua umur kuda. Kuda berumur tua lebih sering disebabkan oleh infeksi pada akar gigi. Kuda berumur muda sering mengalami sinusitis akibat kista yang terdapat pada sinus atau infeksi primer. Walaupun jarang, baik kuda tua dan muda mempunyai tumor yang terdapat di dalam sinus (Mazan 2008).

Penyebab

Sinusitis terjadi pada membran mukosa sinus yang diakibatkan oleh infeksi virus dan bakteri. Virus paling sering menyebabkan infeksi rhinosinusitis yang memiliki durasi kurang dari 7 hari. Organisme yang biasanya menyebabkan bakterial akut sinusitis adalah Streptococcus pneumonia dan Haemophilus influenzae, dan yang utama pada umur muda adalah Moraxella catarrhalis. Ketika sinusitis kronis terjadi, bakteri yang biasa menginfeksi adalah Pseudomonas aeruginosa, Streptococcus group A dan Staphylococcus aureus. Ada lagi jenis bakteri anaerob yang sering menyerang, misalnya spesies Bacterioides, Fusobacterium, dan P acnes. Infeksi fungi juga bisa menyebabakan sinusitis kronis, tetapi infeksi oleh bakteri lebih sering menyebabkan sinusitis kronis dibandingkan akibat infeksi fungi. Infeksi fungi biasanya terjadi pada penderita diabetes mellitus, gangguan sistem kekebalan dan lingkungan geografi yang memiliki kelembaban yang tinggi. Infeksi sinusitis yang disebabkan oleh fungi dapat bersifat tidak menyebar, menyebar dan dapat membentuk fungus ball. Jelas terlihat, sinusitis akibat alergi terhadap fungi, terjadi pada penderita system kekebalan yang rendah dan dari respon hipersensitif terhadap fungi Aspergillus yang membentuk koloni di dalam sinus (Tremaine 2002).

Gejala Klinis

Mukosa sinus mengalami inflamasi, kemudian terjadi peningkatan sekresi mukus. Pada sinus juga terjadi edema, kemerahan karena demam dan terjadi nyeri pada bagian kepala. Sehingga kuda yang menderita sinusutis sering mengalami hipertermi dan nyeri pada bagian kepala. Keaadan inflamasi yang serius dapat menyebabkan hilangnya fungsi silia secara normal, sehingga dapat memudahkan bakteri masuk dan berkembang di dalam sinus. (Mark 2003)

Inflamasi pada bagian sinus menyebabkan kuda merasa tidak nyaman dan menurunkan performa kerjanya. Sinusitis memiliki ciri antara lain merupakan penyakit infeksius pada saluran respiratori atas, akibat dari penyakit gigi, adanya kista dalam sinus, hematoma ethmoid atau neoplasia / tumor, trauma, infeksi fungi. Semua sebab di atas menyebabakan kondisi akumulasi discharge di dalam sinus. Biasanya sinusitis hanya terjadi pada salah satu sisi bagian, jadi adanya discharge juga hanya pada satu bagian nostril atau cuping hidung. Seekor kuda yang menderita sinusitis akan menunjukkan beberapa tanda antara lain salah satu bagian nasal mengalami discharge yang kental, material purulent yang bercampur darah,  memiliki kekhususan dengan bau yang tidak menyenangkan pada bagian nostril, deformitas wajah, adanya discharge pada sudut mata, susah mengunyah makanan, dan nafas yang terengah-engah (Richardson 2005).

Akibat perkembangan bakteri menyebabkan obstruksi pada nasal. Proses penyaringan udara saat respirasi tidak efektif. Kesalahan interpretasi disebabkan karena kurangnya pengetahuan sehingga menyebabkan kecemasan saat menentukan diagnosa yang tepat. Obstruksi sinus pada bagian nasal menyebabkan pengeluaran sekresi terhambat dan membuat bakteri dapat tumbuh dengan baik, akibatnya menyebabkan penyebaran bakteri secara sistemik (Mark 2003).   Sinusitis akut umumnya terjadi infeksi respiratori yang persisten lebih cepat dari 10 hari dengan gejala klinis dan symptom antara lain nasal discharge, batuk, dan bad breath (halitosis). Gejala klinis yang menonjol pada sinusitis akut umumnya mengalami Malaise, Body ache, fever (demam), dan Shivering (menggigil). Keadaan lokal mengalami sakit pada sinus maksilaris, harus dilakukan pemeriksaan mata, serta gigi karena akan berdistribusi sepanjang nervus infraorbitalis, serta akan mengalami sakit ketika batuk secara terus menerus dan sakit ketika mengunyah. Pada bagian ethmoidale sakit pada bagian medial canthus, sebelah mata dan melebihi bagian nasal bridge. Pada bagian frontal sinusitis mengalami sakit pada kepala depan, sedangkan sphenoidal mengalami sakit pada bagian occipital kepala. Terjadi juga nasal blockage dan discharge mukopurulent (Tremaine 2002).

Penyakit hipertrofik sinus yang kronis memiliki gejala klinis dengan lanjutan dari rhinosinusitis dan nasal polyps. Keadaan histopatologis dapat terlihat edema mukosa, inflamatori infiltrasi dari sel plasma, dan terdapat limfosit & eosinofil yang kecil. Chronic rhino sinusitis (CRS) merupakan infeksi yang berlangsung lebih lamban, lebih dari tiga bulan dengan gejala klinis antara lain nasal congestion, batuk, sakit kepala, serta nafas yang berbau (halitosis).

Gejala klinis yang khas pada sinusitis adalah nasal obstruction menyebabakan polyp atau hypertrophied inferior & middle turbinatio. Nasal discharge menyebabkan terbentuknya mucoid, mucopurulent, dan purulent. Post nasal discharge menyebabakan iritasi pada bagian tenggorokan. Kelainan penciuman, sensor mencium bau berkurang (hyposmia), bau yang tidak menyenangkan (cacosmia) atau penyimpangan indera penciuman (parosmia). Gejala yang lain yaitu tenggorokan yang kering, sakit kepala, kelelahan yang menyeluruh akibat demam, dan keluarnya darah dari hidung /bleeding (Tremaine 2002).

Diagnosis

Dilakukan analisis anamnese untuk melakukan tindakan selanjutnya yang mengarah kepada suatu tindakan diagnosis yang spesifik. Hasil analisis untuk mengetahui sejauh mana penyakit ini telah terjadi. Selama dilakukannya physical examination, akan dilakukan perkusi pada sinus. Apabila suara yang terdengar akibat perkusi tersebut nyaring dan keras, maka merupakan suatu keadaan yang normal. Namun jika suara yang timbul redup, maka hal ini menunjukkan bahwa di dalam sinus terdapat suatu cairan (Kelly 1984).

X-rays atau radiografi pada regio kepala dapat dilakukan untuk melihat adanya suatu cairan atau massa di dalam sinus. Radiografi juga dapat dilihat ada atau tidaknya penonjolan akar gigi ke dalam rongga sinus.

Pemeriksaan Endoscopy dilakukan untuk melihat kedalam rongga sinus jenis lelerannya. Pemeriksaan ini juga untuk mengetahui struktur guttural pouches untuk memastikan adanya penyebab lain yang menyebabkan terjadinya leleran dari sinus. Adakalanya ditemukan berbagai macam penyebab sehingga harus dipisahkan satu sama lain.

Pemeriksaan pada rongga mulut dilakukan untuk melihat adanya gigi yang patah atau yang tanggal yang berhubungan dengan terjadinya sinusitis. Pemeriksaan ini biasanya memerlukan sedativum dan mouth gag (speculum) (Mazan 2008).

Diferensial diagnosis

Kuda-kuda berumur muda seringkali mengalami cysta sinus, kuda tua umumnya terkena tumor sinus (Mazan 2008), dan ethmoid haematomas (Richardson 2005).

Prognosis

Dubius

Pengobatan Sinusitis

Pengobatan sinusitis akut hewan dapat diistirahatkan, pemberian antibiotic penicillin atau antibiotic yang memiliki aktivitas yang luas, pemberian nasal decongestan, steaning soothing effect, analgesic, dan tidak dianjurkan untuk dioperasi (Tremaine 2002).

Pengobatan sinusitis yang bersifat kronis dilakukan dengan cara mengeluarkan semua benda asing dari dalam sinus, seperti nanah (mucous) atau jaringan tumor dari dalam sinus. Bersihkan sinus menggunakan NaCl fisiologis, dapat pula menggunakan lotion ZnCl2 5-10 % lalu dicuci dengan phenol kemudian diikuti dengan pemberian tincture jodii dengan konsentrasi 5-10 %. Lakukan drainase dengan solution Bismuth Subiodide 50 % kedalam sinus untuk mengurangi jaringan yang nekrosa. Namun apabila jaringan nekrosanya terlalu banyak, pengobatan ini tidak akan efektif. Drainase dapat pula dilakukan dengan cara pemberian verband kasa yang sebelumnya dicelup kedalam solution antiseptika. Untuk terapi lebih lanjut, lakukan perawatan secara medis dengan memberikan antibiotik serta hawan melakukan latihan ringan. Apabila perawatan medis ini tidak berhasil, maka dapat dilakukan trepanasi pada sinus frontalis atau sinus maksilaris (Perkins dan Safia 2005).

Sinusitis yang berawal dari gigi yang sakit, diobati dengan cara menangani faktor penyebab utamanya, kemudian bersihkan mukosa-mukosa yang abnormal, irigasi ruang sinus dan berikan antibiotik sistemik (Freeman 2003). Pengobatan yang tidak tepat menyebabkan komplikasi, sehingga mengarah pada orbita mata dan menyebabkan kebutaan. Tekanan intrakranial yang meningkat dapat menyebabkan meningitis akut dan abses subdural di dalam otak. Komplikasi yang lain akibat dari pengobatan salah menyebabkan osteomielitis dan abses sub periosteal pada tulang frontalis (Mark 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Freeman  D.E. 2003. Disease of the Sinus and Nasal Passages. Italy : IVIS

Kelly W.R. 1984. Veterinary Clinical Diagnostic Third Edition. Bailliere Tindal: London.

Mark S. . 2003. Rhinitis and sinusitis. From the Saint Louis University School of Medicine. St Louis, Mo: Mosby, Inc.

Mazan M. 2008. Sinusitis. http://www.petplace.com/horses/sinusitis/page1.aspx, [3 Desember 2008]

Perkins, J & Safia, B. 2005. The Equine Paranasal Sinuse Part 4. UK VET. Vol 10 : 1-4

Tremaine W. H.  and P. M. Dixon. 2002. Diseases of the Nasal Cavities and Paranasal Sinuses. In: Equine Respiratory Diseases, P. Lekeux (Ed.). Ithaca, New York, USA: Publisher International Veterinary Information Service.

Both comments and trackbacks are currently closed.