Epilepsi pada Kucing


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Epilepsi merupakan gangguan pada otak yang bersifat kronis karena seringnya mengalami seizure (Eldredge et al 2008). Suatu seizure terjadi bila sinyal abnormal dari syaraf menyebabkan otot mendadak melakukan konvulsi.

Jenis-jenis Seizure:

  1. Petit Mal:  seizure ringan, yaitu kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
  2. Grand Mal, Tonic Clonic: jenis seizure ini paling umum terjadi, kucing jatuh dan mengalami kejang dengan merenggangkan semua ekstremitasnya. Kontrol terhadap otot hilang begitu juga dengan kontrol terhadap vesica urinaria dan usus. Seizure jenis ini berlangsung selama 1-3 menit.
  3. Status Epilepticus: kondisi seizure seperti ini dapat berakibat fatal dan berlangsung lebih dari 5 menit. Seizure jenis ini berulang dalam jarak yang pendek dan kucing masih dalam keadaan sadar.
  4. Cluster Seizures: Seizure jenis ini berulang dalam jarak yang pendek tetapi kucing kehilangan kesadarannya (Hillard 2008).

Penyebab:

Epilepsi bersifat idiopathic bila penyebabnya tidak diketahui, bisa jadi penyebabnya berkaitan dengan genetic. Beberapa kasus epilepsy dapat disebabkan oleh faktor-faktor berikut (Orpet & Welsh 2002):

  1. Trauma yang terjadi pada kepala
  2. Tumor pada otak
  3. Cacat lahir
  4. Infeksi virus (Vandevelde & Hoff 1981)
  5. Keracunan logam berat
  6. Kelainan metabolisme

Gejala Klinis:

  • Sebelum terjadi seizure: perubahan perilaku
  • Di awal terjadinya seizure: Menggigil, hipersalivasi, berjalan tanpa arah, gelisah, bersembunyi dan mengeong.
  • Selama seizure: kehilangan kesadaran, hipersalivasi, konvulsi, mengeong, urinasi dan defekasi.
  • Setelah terjadi seizure: disorientasi dan mengalami kebutaan sementara (Tilley & Smith 2000).

Selama dalam keadaan seizure, disarankan untuk memindahkan kucing ke tempat yang lebih luas untuk menghindari cedera karena trauma. Epilepsi termasuk kedalam kasus darurat (emergency) karena dapat menyebabkan komplikasi apabila tidak segera ditangani.

Diagnosis:

Beberapa pemeriksaan berikut ini dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis epilepsy (Quesnel et al. 1997):

  1. Analisis cairan cerebrospinal: pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui adanya infeksi.
  2. Pemeriksaan darah: pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui epilepsy karena keracunan logam berat, hipotiroid dan hipoglisemi
  3. CT scan atau MRI: pemeriksaan ini untuk mendeteksi adanya tumor pada otak.
  4. X-rays: pemeriksaan ini untuk mengevaluasi regio thoraks dan abdomen
  5. Pemeriksaan feses dan urin.

Pengobatan:

Pemberian antikonvulsi sangat berguna dalam mengurangi frekuensi dan keparahan seizure. Pengobatan dalam waktu lama perlu pemantauan fungsi hati dan ginjal. Pemberian probiotik juga membantu pada kasus epilepsi. Phenobarbital saat ini merupakan drug of choice untuk mengobati epilepsy pada kucing (Quesnel 2005). Pilihan lain adalah diazepam dan potassium bromide, namun diazepam bersifat hepatotoksik dan potassium bromida dapat menyebabkan allergic pneumonitis (Center et al. 1996; Boothe et al. 2002). Penelitian terbaru menyebutkan bahwa levetiracetam dosis 20 mg/Kg BB setiap 8 jam dikombinasikan dengan phenobarbital dapat membantu mengobati idiopatik epilepsy, namun efek sampingnya berupa penurunan nafsu makan dan kelemahan yang bersifat ringan (Bailey et al. 2008).

Pencegahan:

Pencegahan sulit dilakukan karena umumnya epilepsi bersifat idiopatik.
Prognosis:

Pengobatan yang terencana dapat menghasilkan kesembuhan 70% kasus epilepsi. Sebanyak 30%  kasus lainnya tidak berhasil dengan pengobatan.

Daftar Pustaka

Bailey, K.S., C. W. Dewey, D. M. Boothe, G. Barone, & G. D. Kortz. 2008. Levetiracetam as an adjunct to Phenobarbital treatment in cats with suspected idiopathic epilepsy. Journal of American Veterinary Medical Association 232(6): 967–72.

Boothe, D. M., K. L. George & P. Couch. 2002. Disposition and clinical use of bromide in cats. Journal of American Veterinary Medical Association 221: 1131–35.

Center, S. A., T. H. Elston, P. H. Rowland, D. K. Rosen, B. L. Reitz, J. E. Brunt, I. Rodan, J. House, S. Bank, L. R. Lynch, L. A. Dring, & J. K. Levy. 1996. Fulminant hepatic failure associated with oral administration of diazepam in 11 cats. Journal of American Veterinary Medical Association 209: 618–25.

Eldredge D. M, Carlson D. G, Carlson L. D & Giffin J. M. 2008. Cat Owner’s Home Veterinary Handbook. 3th Ed. Wiley Publishing, Inc., Hoboken, New Jersey.

Hillard F. 2008. Feline Epilepsy. Vetlibrary.com. [Peb 2011]

Orpet H & Welsh P. 2002. Handbook of Veterinary Nursing. Blackwell Science Ltd Editorial Offices: London.

Tilley LP & Smith FWK. 2000. The 5-Minute Veterinary Consult, 2nd Ed. Software: Ready Reference , Lippincott Williams & Wilkins.

Quesnel AD, Parent JM, McDonell W, Percy D & Lumsden JH. 1997. Diagnostic evaluation of cats with seizure disorders: 30 cases (1991-1993). J Am Vet Med Assoc 1997 Jan 1;210(1):65-71.

Quesnel, A. D. 2005. Seizures. In Textbook of veterinary internal medicine, ed. Stephen J. Ettinger and Edward C. Feldman, 164–70. St. Louis: Elsevier Saunders.

Vandevelde M & Hoff EJ.1981. Non-suppurative encephalomyelitis in cats suggestive of a viral origin. Vet Pathol 1981 Mar;18(2):170-80.

 

Both comments and trackbacks are currently closed.