Gizzard Erosion pada Ayam


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Perkembangan terbaru menyebutkan bahwa istilah gizzard erosion sekarang tidak menyendiri tetapi bergabung dengan istilah lain menjadi Haemorrhagic Proliferative Proventiculitis And Gizzard Erosion (HPPGE) (Dhawale 2011). HPGE umumnya menyerang ayam umur 2 – 10 minggu. Mortality rate nya berkisar antara 1 – 10%. Para ahli bersepakat bahwa penyebab dari HPPGE ini tidak tunggal tetapi terdiri dari berbagai macam penyebab, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu dipahami mengenai HPPGE:

  1. HPPGE merupakan penyakit yang melibatkan lebih dari satu penyebab
  2. Traktus digestivus dan sistem endokrin merupakan target utama
  3. Tingkat keparahan lesio dipengaruhi oleh nutrisi, sistem pemeliharaan dan faktor higiene

Respon untuk mengobati HPPGE masih berdasarkan gejala klinis yang tampak dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian. Berdasarkan pada pustaka ilmiah kondisi HPPGE mempunyai kesamaan dengan malabsorption syndrome, infectious proventriculitis, infectious runting syndrome, pale bird syndrome dan stunting syndrome.

Pembesaran Proventrikulus dan Gizzard (kiri), Haemoragi Proventikulus dan Kerusakan Ringan Gizzard (kanan).

Etiologi

Faktor NonInfeksius

  1. Dietary Biogenic Amines (DBA)

Kadar DBA yang tinggi seperti histamine, 3HT, 5HT, histidin, dopamin, gizzerosin dan serotonin dijumpai dalam pakan terutama tepung ikan, jagung, tepung kedelai, vitamin premix, lemak dan meat bone meal. Biogenic amine merupakan produk dari dekarboksilasi katabolisme asam amino dan bersifat toksik terhadap ayam. Histamine dihasilkan dari pakan ayam dalam kondisi temperatur dan kelembaban optimum oleh mikroba dekarboksilasi histidin. Gejala keracunan histamin adalah pertumbuhan lambat dan pembesaran proventikulus. Permasalahan keracunan histamin pada ayam seringkali disebabkan karena tingginya konsumsi tepung ikan. Seharusnya kisaran histamin dalam pakan adalah 0,4 – 0,5%. Gizzerosin dapat ditemukan dalam tepung ikan sebagai hasil interaksi dari caesine dengan histidin dan dapat menyebabkan gizzard erosion (black vomit disease) serta ulkus (Sugahara 1995). Pemicu terbentuknya gizzerosin adalah adanya peningkatan temperatur pakan akibat dari kesalahan penanganan saat transportasi dan kesalahan saat penyimpanan. Ciri-ciri tepung ikan yang mengandung kadar gizzerosin tinggi antara lain menyolok dari aspek warna, bau dan rasa.

Nilai pH gizzard dan duodenum akan menurun setelah seminggu pascapercobaan pada anak ayam umur 3 hari dengan diet yang mengandung 6,25 ppm gizzerosin. Nilai pH berkisar antara 4,4 – 3,6 dalam gizzard dan 6,4 – 5,6 dalam duodenum. Hal ini membuktikan bahwa gizzerosin dipicu oleh meningkatnya sekresi asam lambung. Dampak erosi gizzerosin lebih besar dibandingkan oleh histamine. Penambahan 0,5 – 1% lysine hydrochloride dapat mengurangi dampak dari gizzerosin. Gizzerosin dapat menstimulasi sel glandula sekretori pada proventrikulus untuk menghasilkan HCl. Lesio pada gizzard merupakan hasil dari kondisi hiperasiditas. Sel glandula alveoli dari proventrikulus akan menghasilkan HCl dan pepsinogen (pepsin) yang berfungsi sebagai enzim pencerna protein. Adanya lesio pada proventrikulus akan mengganggu fungsi enzim ini sehingga ayam terlihat indigesti.

2. Mycotoxins

Toksin T2 dihasilkan oleh fusarium dan bersifat iritan. Toksin T2 dapat menyebabkan nekrosa pada permukaan proventrikulus dan gizzard.

Citrinin merupakan toksin yang merusak ginjal dan gizzard.

Oosporein merupakan toksin yang dapat menyebabkan pembesaran pada proventrikulus dan terbentuknya eksudat pseudomembaran pada mukosanya.

Cycloplazonic Acid (CPA) merupakan toksin yang dapat menyebabkan lesio pada proventrikulus, gizzard, hati dan limpa. Selain itu, mukosa proventrikulus berdilatasi dan menipis karena terjadi hyperplasia dan ulkus. Nekrosa pada mukosa gizzard juga dapat terjadi.

Faktor Infeksius

Adenovirus dapat menyebabkan gizzard erosion, virus ini dicirikan oleh adanya intranuklear inclusion body pada sel epitel. Infeksi reovirus bersama dengan histamin dapat menyebabkan pembesaran pada proventrikulus. Reovirus strain SS 412 pernah diisolasi dari kasus proventrikulitis dan malabsorption syndrome. Agen infeksi lainnya yang dapat menyebabkan proventrikulitis adalah bakteri anaerob seperti Clostridium, selain proventrikulitis bakteri ini dapat menyebakan ulkus pada usus dan nekrotik hepatitis.

Focal Nekrotik (kiri), Nekrosa Gizzard (tengah), Hemoragi Proventikulus (kanan)

Faktor Lain

Ketidakseimbangan asam amino terutama lisin dan metionin, kelebihan copper sulfate, rendahnya serat, dan rendahnya asupan air juga dapat menyebabkan HPPGE. Pemberian vitamin E pada ayam 3 minggu berguna mengurangi tingkat kematian pada kasus pale bird syndrome. Faktor peneyebab HPPGE lainnya adalah defisiensi vitamin yang larut dalam lemak dan keterlambatan inkubasi pada masa embrio yang akan tampak pada DOC (Day Old Chicks) (Almquist & Stokstad 1936).

Treatment

  1. Menghindari kepadatan yang terlalu tinggi
  2. Mengganti litter bila terlalu lembab
  3. Mengganti sumber protein hewani dengan protein nabati
  4. Memberikan antitoksin, vitamin E, liver tonic, digestion stimulant, antifungal dan toxin binder pada ayam umur 5-7 hari
  5. Memberikan chondroitin sulfuric acid (CSA) dalam pakan (Crandall et al. 1938)
  6. Memberikan antibiotik untuk menangani Clostridium
  7. Mengontrol kondisi hiperasiditas dengan pemberian antasida seperti ranitidine, alumunium hidroksida melalui air minum
  8. Menjaga keseimbangan asam amino, serat kasar, kalsium dan fosfor
  9. Vaksinasi terhadap reovirus dan adenovirus. (Dhawale 2011).

Daftar Pustaka

Almquist HJ & Stokstad ELR. 1936. A Nutritional Deficiency Causing Gizzard Erosions in Chicks. Journal of Science Nature 137, 581-582 (04 April 1936) | doi:10.1038/137581b0.

Dhawale A. 2011. Haemorrhagic Proliferative Proventriculitis And Gizzard Erosion. India.

Sugahara M. 1995. Black vomit, gizzard erosion and gizzerosine. World’s Poultry Science Journal 51: 293-306.

Crandall LA, Chesley FF, Gray RE & Robinson HE. 1938. The Effect of Chondroitin Sulfuric Acid on Gizzard Erosion Growth in Chicks. The Journal of Nutrition.

 

 


 

Both comments and trackbacks are currently closed.