Clostridiosis (Blackleg) pada Sapi*


E. J. Richey, DVM**

Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho
Penyakit – penyakit yang menyerang sapi seperti blackleg, malignant edema, sord, black disease dan red water merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus Clostridium. Bakteri ini memiliki tiga ciri penting yakni berkembangbiak pada kondisi anaerob, kemampuan membentuk spora, dan melepaskan toksin ketika proses perkembangbiakan berlangsung. Kombinasi ketiga kemampuan tersebut menjadikan bakteri ini sangat berbahaya.
Clostridium bentuk spora bisa ditemukan pada tanah, permukaan tubuh, dan bahkan pada sapi yang terlihat sehat. Spora ini tidak akan menyebabkan sakit, kecuali telah terjadi kerusakan pada jaringan tubuh sehingga menyediakan lingkungan yang menguntungkan bagi spora untuk menjadi bentuk aktif dan berkembangbiak. Selama proses perkembangbiakan, toksin yang dilepaskan dapat merusak jaringan otot, sel darah merah atau mengganggu impuls saraf, tergantung dari lokasi keberadaannya. Pada dasarnya lokasi infeksi bakteri ini adalah pada otot, hati, dan saluran pencernaan. Dengan demikian, Clostridiosis dapat digolongkan menjadi grup otot, grup hati, dan grup saluran pencernaan.
Grup Otot
Clostridium yang termasuk kedalam grup ini biasanya memasuki tubuh dalam bentuk dorman melalui luka. Luka apapun yang dapat menghubungkan jaringan yang rusak dengan pembuluh darah dapat mengaktifkan kondisi dorman seperti pada Cl. Chauvoei, Cl. Septicum dan Cl. Sordellii. Memar-memar yang disebabkan oleh tandukan, prosedur pengekangan, pengangkutan, kerusakan jaringan dan hingga menyebabkan pneumonia merupakan kondisi yang cocok bagi perkembangan bakteri-bakteri ini. Toksin yang dilepaskan ketika proses perkembangbiakan akan menyebabkan kerusakan otot sehingga mempengaruhi fungsi organ. Ketiga spesies bakteri ini merupakan grup bakteri yang dapat merusak otot sehingga menyebabkan penyakit seperti blackleg, malignant edema dan penyakit sord. Ketiga bakteri ini dicirikan dengan terjadinya kebengkakan, akumulasi cairan dalam jaringan, dan terkadang terbentuk gas yang mengitari area infeksi. Adanya kebengkakan tersebut biasanya terlihat pada pinggul, pundak, leher, dan bagian atas kaki. Sapi yang terinfeksi biasanya menunjukkan gejala klinis seperti pincang, depresi, kenaikan temperatur pada fase awal infeksi dan penurunan temperatur hingga normal pada fase selanjutnya. Pada fase akhir, sapi akan mengalami depresi hebat hingga roboh. Kematian biasanya terjadi 12 jam setelah timbul gejala klinis. Karena menyebabkan kematian yang cepat, sapi yang terinfeksi umumnya ditemukan dalam kondisi telah mati.
Grup Hati
Spora dalam grup bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui pakan dan air yang terkontaminasi, masuk melalui saluran pencernaan dan bersirkulasi melalui aliran darah hingga sampai di hati. Kerusakan pada hati seperti karena keracunan tanaman atau bahan kimia, parasit internal dan cacing akan membuat spora aktif. Bakteri yang termasuk ke dalam grup ini adalah Cl. Novyi dan Cl. haemolyticum. Seperti halnya pada grup otot, bakteri pada grup ini juga melepaskan toksin pada saat bakteri ini berkembangbiak. Toksin ini akan menyebar pada jaringan hati yang rusak dan terserap masuk ke dalam aliran darah hingga akhirnya dapat merusak organ-organ yang lain.
Cl. Novyi merupakan penyebab terjadinya black disease dan Cl. haemolyticum merupakan penyebab terjadinya hemoglobinuria (red water). Proses terjadinya penyakit-penyakit tersebut berlangsung cepat sehingga seringkali sapi ditemukan dalam keadaan mati. Gejala awal yang muncul pada penyakit ini adalah depresi, demam, dan enggan untuk bergerak. Gejala lebih lanjut adalah terjadinya kesulitan bernapas dan adanya sedikit busa bercampur darah pada hidung, apabila sapi dapat bertahan pada kasus Cl. haemolyticum, maka akan muncul gejala klinis red water atau bacillary hemoglobinuria.
Grup Saluran Pencernaan
Bakteri yang tergabung dalam grup ini adalah Cl. Perfringens yang menyebabkan enterotoksemia. Bakteri ini ditemukan dalam saluran pencernaan dan penyebarannya di dunia amatlah luas. Setelah masuk ke dalam tubuh melalui pakan dan air, bentuk spora akan berubah menjadi bentuk nonspora di dalam usus halus. Kondisi rendah oksigen dapat memicu proses perkembangbiakan sehingga toksin akan dihasilkan. Terjadinya gangguan pada saluran pencernaan akan bertambah pada kondisi asupan karbohidrat berlebih atau pada kondisi perubahan pakan secara mendadak. Asupan karbohidrat berlebih akan mengganggu mikroflora rumen sehingga memicu terjadinya asidosis akibat tingginya produksi asam laktat. Kondisi seperti ini mendukung proses perkembangbiakan Cl. Perfringens tipe D. Kondisi asidosis akan mengakibatkan menurunnya motilitas rumen dan terakumulasinya toksin di usus halus, sehingga mudah memasuki aliran darah. Cl. Perfringens tipe C teraktifasi pada kondisi menurunnya motilitas usus, akumulasi susu dalam saluran pencernaan, dan kurang gerak. Selama teraktifasi bakteri tipe ini akan menghasilkan banyak toksin yang dapat merusak usus dan terserap ke dalam aliran darah. Cl. Perfringens tipe B tidak terlalu bermasalah di Amerika meskipun beberapa kasus infeksi oleh bakteri tipe ini pernah terdiagnosis.
Kematian akibat infeksi bakteri dari grup ini sering terjadi sebelum gejala klinis muncul. Gejala klinis yang muncul akibat infeksi dari Cl. Perfringens tipe D adalah konvulsi dan eksitasi. Sedangkan pada tipe C gejala klinis yang muncul adalah nyeri pada abdomen/kolik, depresi dan low bloat. Gejala ini akibat terjadi kerusakan pada jaringan usus oleh toksin sehingga timbul inflamasi dan hemoragi pada lapisan usus yang dikenal sebagai purple gut.
Pengendalian
Langkah pengendalian yang penting adalah pelaksanaan vaksinasi pada ternak. Alasannya adalah spora Clostridium tersebar pada tanah, adanya spora dalam tubuh tidak dapat menyebabkan resistensi, dan kematian sering terjadi sebelum gejala klinis muncul karena tidak cukupnya respon imunitas. Oleh karena itu, vaksinasi ini penting untuk melawan bakteri yang teraktifasi atau terhadap toksin. Program vaksinasi dilakukan dua kali, pertama untuk menggertak antibodi short acting dan kedua untuk menggertak antibodi long acting. Sapi yang divaksin dibawah 3 bulan harus di vaksin lagi pada umur 4-6 bulan. Booster vaksin dapat dilakukan setahun sekali. Khusus untuk pengendalian Cl. novyi dan Cl. Haemolyticum, sapi harus di booster setiap 6 bulan sekali. Blackleg biasanya dipicu oleh proses pengangkutan, sehingga sebelum pengangkutan disarankan untuk dilakukan vaksinasi.
Sapi yang mati akibat infeksi Clostridium harus dibakar dan dikubur dalam-dalam karena Clostridium tersebar dalam karkas. Apabila tidak dibakar dan dikubur, maka akan menjadi sumber infeksi bagi sapi lain dan menjadi sumber transmisi oleh predator, pengurai atau air hujan.

*.This document is VM48, one of a series of the Veterinary Medicine-Large Animal Clinical Sciences Department, Florida Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida. Original publication date June 1, 1987. Reviewed and revised April, 1996, December, 2004 Visit the EDIS Web Site at http://edis.ifas.ufl.edu.

**. E.J. Richey, Extension Veterinarian, College of Veterinary Medicine, Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida, Gainesville, 32611.

Both comments and trackbacks are currently closed.
%d blogger menyukai ini: