Pinkeye pada Sapi


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Pendahuluan

Pinkeye disebut juga infectious bovine keratoconjunctivitis (IBK), infectious keratitis, atau blight merupakan penyakit yang biasa menyerang sapi. Penyakit ini bersifat mudah menular menyebabkan inflamasi pada kornea dan konjungtiva. Beberapa kasus (2%) bahkan ada yang sampai menyebabkan ulkus kornea hingga kebutaan. Pinkeye sebenarnya termasuk ke dalam self limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya.

Pinkeye menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit, tercatat kerugiannya mencapai 150 juta dolar di Amerika tiap tahunnya. Kerugian ekonomi dapat berupa  penurunan bobot badan, produksi susu, dan biaya pengobatan. Penyakit ini umum menyerang heifers dan pedet umur 3 minggu.

Kausa

Pinkeye utamanya disebabkan oleh bakteri Moraxella bovis, bakteri ini bisa ditemukan di mata penderita atau pada hewan yang terlihat sehat. Pinkeye merupakan penyakit multifaktor, artinya bahwa banyak faktor predisposisi yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit ini. Lalat merupakan vektor mekanik yang dapat menyebarkan penyakit ini dari satu individu ke individu lainnya.

Pinkeye dapat terjadi dengan diawali oleh adanya iritasi pada mata, iritasi ini bisa disebabkan oleh kibasan ekor, gesekan rumput dan debu. Debu ini bersamaan dengan paparan ultraviolet meningkatkan peluang terjadinya penyakit ini. Sapi yang kekurangan pigmen pada kelopak matanya berpeluang besar terkena pinkeye karena tingginya sensitifitas kelopak mata terhadap paparan ultraviolet. Prevalensi tinggi terjadi pada Bos Taurus dibanding dengan Bos indicus dan lebih resisten pada cross bred. Infeksi campuran dengan infectious bovine rhinotracheitis (IBR), mycoplasma, chlamydia, dan Branhemella ovis akan memperburuk kondisi hewan.

 Penyebaran

Penyebaran penyakit ini melalui kontak dengan sekresi mata yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Lalat juga berperan sebagai vektor dalam penyebaran penyakit ini.

Gejala Klinis

Terdapat 4 tahap gejala dari penyakit ini, setiap tahapan bila tidak ada tindakan pengobatan maka akan berkembang menuju tahap selanjutnya.

Tahap 1: hiperlakrimasi, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, kemerahan, dan sering berkedip.

Tahap 2: ulkus pada kornea

Tahap 3: ulkus menyebar, inflamasi pada bagian dalam mata.

Tahap 4: ulkus hingga ke iris, hewan menjadi buta.

Pengobatan

Pengobatan awal perlu dilakukan untuk mencegah semakin parahnya kondisi penyakit dan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut terhadap sapi lain. Tindakan karantina perlu dilakukan, karena sapi yang terinfeksi dapat berberan sebagai reservoir. Tindakan pengobatan pada prinsipnya adalah untuk mengurangi iritasi, mengurangi risiko penyebaran penyakit, dan melindungi mata dari kerusakan lebih lanjut. Antibiotik long acting seperti tetracycline dan tulathromycin dapat digunakan untuk mengobati penyakit ini. Antibiotik seperti florfenicol dan tilomicosin juga pernah dicobakan untuk mengobati pinkeye dan hasilnya cukup efektif.

Pencegahan

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengontrol populasi lalat, hal-hal yang dapat dilakukan adalah memasang perangkap, insecticide pour-on, back rubbers, dust bags, knock-down sprays, dan pemberian feed additives untuk mengontrol larva. Penggunaan kumbang tahi juga berguna untuk mengurangi jumlah telur lalat pada feses. Khusus penggunaan pestisida, untuk menghindari terjadinya resistensi maka perlu dilakukan pergantian setiap tahun. Misalnya jika golongan piretrin telah digunakan selama setahun, maka pada tahun berikutnya diganti dengan organofosfat.
  2. Perbaikan manajemen secara terpadu meliputi perbaikan kualitas pakan, kebersihan kandang, pengolahan feses, program vaksinasi, tindakan karantina, dan menyediakan naungan pada lokasi penggembalaan untuk meminimalisasi terhadap keterpaparan ultraviolet.

Daftar Pustaka

Radostits O. et al. “Veterinary Medicine a textbook of the diseases of cattle, horses, sheep, pigs and goats” 10th edition. Saunders Elsevier limited, 2007

Snowden, G.D., Van Vleck, L.D., Cundiff, L.V., and Bennett G.L. Journal of Animal Science 2005 Mar, 83(3): 507-518

1997 Report on National Animal Health Monitoring System (NAHMS), USDA APHIS, Veterinary Services.

1975 Beef Cattle Research Report, Progress Report 218, Kentucky Agriculture Experiment Station, 1975.

1985 Beef Cattle Research Report, Progress Repott 291, Kentucky Agriculture Experiment Station, 1985.

Van Weering, H.J., and Koch, M.J. TijdschrDiergeneeskd 1992 Feb 1: 118(3): 82-84.

Both comments and trackbacks are currently closed.
%d blogger menyukai ini: