Mengoleksi Sampel Otak Hewan Tersangka Rabies Menggunakan Alat Brain Scoop


Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Rabies adalah penyakit zoonosa yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini endemik
di beberapa bagian negara di seluruh dunia dan menular melalui gigitan hewan
pembawa rabies. Standar tes untuk mendiagnosis rabies adalah dengan metode
fluorescent antibody test (FAT). Metode ini memerlukan sampel jaringan otak dari
hewan tersangka rabies. Cara mendapatkan sampel yang sesuai untuk dikirim ke
laboratorium terkadang menemui kendala teknis di lapangan. Sulitnya membuka
bagian kepala karena kerasnya tulang kepala yang melindungi otak menjadi kendala
yang umum dihadapi petugas di lapangan. Jika bagian kepala utuh di kirim ke
laboratorium, maka hal ini tentu tidak praktis pada saat transportasi karena
memerlukan tempat yang relatif luas. Melihat kendala tersebut beberapa ahli dalam
bidang ini mencoba mengembangkan teknik yang lebih praktis.
Teknik pengambilan sampel otak dari hewan tersangka rabies dapat dilakukan
dengan menggunakan Brain scoop. Alat ini bisa dibuat dari bahan

 stainless steel
yang bentuknya mirip sekop dengan ujung tajam untuk memotong jaringan otak.
Brain scoop dapat dibuat menjadi beberapa ukuran yang disesuaikan dengan jenis
hewan yang akan diambil sampelnya.

Teknik Pengambilan Sampel

Persendian atlanto-occipital dipotong menggunakan scalpel, untuk menjangkau
batang otak harus melalui foramen magnum. Pada hewan besar seperti sapi, kerbau
dan babi untuk menjangkau batang otak harus menyingkirkan dahulu dura mater
dengan cara memotong akar saraf kranial dengan memasukkan gunting ke ruang
subarachnoid lewat foramen magnum. Berbeda dengan hewan besar, pada hewan
kecil tidak perlu melakukan langkah seperti itu, cukup menggunakan ujung tajam
dari brain scoop untuk memotong akar saraf kranial dengan cara memasukkannya
ke arah ventral dan lateral melalui cavum cranial di antara batang otak dan
meningen. Brain scoop dimasukkan ke foramen magnum dengan bagian cekungnya
menghadap ke bawah cavum cranial kemudian menjangkau batang otak. Dorong
brain scoop sehingga sampel dari batang otak dapat diambil. Kemudian tarik keluar
brain scoop melalui foramen magnum. Sampel yang didapat di simpan ke dalam
larutan formaldehid dan atau gliserol 50%.
Brain scoop merupakan alat yang praktis dapat digunakan di lapangan untuk
mengoleksi sampel otak hewan tersangka rabies seperti anjing, kucing, sapi, kerbau
dan babi. Sampel yang didapat adalah batang otak termasuk medulla oblongata,
pons, obex dan sejumlah besar mesencephalon dan diencephalon. Alat ini
memungkinkan juga untuk mengambil sampel dari cerebrum dan cerebellum dengan
menyesuaikan bentuk sudutnya.
Ada cara lain yang lebih sederhana untuk mengoleksi sampel otak seperti yang
dijelaskan oleh Barrat (1996), yaitu menggunakan sedotan plastik yang ditusukkan
ke dalam foramen magnum. Namun cara ini memiliki kelemahan karena jumlah
sampel yang didapat terlalu sedikit tidak cukup untuk pemeriksaan histopatologi.
Keunggulan brain scoop adalah sampel yang didapat cukup untuk beberapa
pemeriksaan laboratorium dan minim kontaminasi.


Sumber:
Barrat, J. (1996) Simplified technique for the collection, storage and shipment of
brain specimens for rabies diagnosis, In: Laboratory Techniques in Rabies, 4th
Edition, World Health Organisation, Geneva.
Gunawardena G.S.P. de S. 2007. Brain Scoop: A Simple Post-Mortem Instrument to
Collect Brain Samples for Diagnosis of Rabies. Proceedings of the Peradeniya
University Research Sessions, Sri Lanka, Vol.12, Part I, 30th November 2007.
Comments are closed, but you can leave a trackback: Trackback URL.