PERTAHANAN TERHADAP PENYAKIT IKAN EKSOTIK DEMI KELESTARIAN PERIKANAN NASIONAL


Oleh : Dimas Tri Nugroho

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang disebut-sebut sebagai negara mega biodiversity karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat lengkap. Negara ini dianugrahi kekayaan alam yang melimpah serta kesuburan tanah untuk bercocok tanam. Kekayaan yang dimiliki menjadi daya tarik bagi bangsa lain untuk mencari kekayaan alam yang melimpah ruah. Semenjak dulu, sejarah telah mencatat beberapa bangsa di dunia telah berdatangan ke negara ini untuk mencari rempah-rempah. Kini pun peneliti asing banyak berdatangan untuk meneliti potensi baru di alam Indonesia mencari sesuatu yang memiliki potensi ekonomi tinggi di masa depan.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 gugusan pulau dengan total luas perairan laut diperkirakan sebesar 5,8 juta km2 dan negara berpantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada dengan panjang garis pantai mencapai 81.000 km. Potensi kelautan negara ini sangat besar, berdasarkan data BPS 2009a, produksi perikanan laut yang dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) tahun 2009 mencapai 556.123 ton dan produksi perikanan tangkap tahun 2008 mencapai 5.196.328 ton (BPS, 2009b).

Ikan merupakan alternatif sumber protein hewani yang murah bagi masyarakat Indonesia. Ikan memiliki kandungan nutrisi yang aman untuk balita hingga manula. Kandungan omega 3,6,dan 9 pada ikan bermanfaat untuk tumbuh kembang bayi, tingkat kecerdasan, dan membuat daya tahan tubuh lebih kuat. Sayangnya rata-rata konsumsi protein masyarakat Indonesia masih rendah bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Tingkat konsumsi ikan di Indonesia tahun 2008 hanya 28 Kg per kapita per tahun (KKP, 2010). Pengetahuan masyarakat yang masih rendah terhadap kandungan gizi pada ikan ditambah dengan kurang variatifnya pengolahan makanan bersumber ikan menjadi salah satu faktor masih rendahnya konsumsi ikan di negara ini.

Mengingat sangat besar manfaat ikan bagi masyarakat, maka perlu dilakukan upaya kelestariannya. Ikan merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui, artinya jika pengelolaan sumberdaya perikanan dilakukan dengan memperhatikan aspek kontinuitas, maka ketersediaan protein hewani  juga akan stabil. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian penting adalah aspek penyakit. Penyakit yang sulit ditanggulangi tentu akan mengancam kelestarian sumberdaya perikanan. Prinsip pengobatan terhadap penyakit bukan lagi merupakan salah satu hal utama yang harus dilakukan. Kecenderungan prinsip dalam bidang kesehatan sekarang telah bergeser menjadi prinsip pencegahan terhadap penyakit. Oleh karena itu, perlu diperkuat sistem pertahanan untuk mencegah masuknya penyakit-penyakit ikan yang belum pernah ada di Indonesia (penyakit eksotik).

 

Tujuan

             Karya tulis ini dibuat untuk membahas peran penting pertahanan terhadap penyakit ikan eksotik agar kelestarian sumberdaya perikanan nasional tetap terjaga.

 

 

PEMBAHASAN

Penyakit Eksotik

            Penyakit eksotik adalah penyakit hewan yang tidak ditemukan ada di Indonesia. Penyakit-penyakit ini masuk ke Indonesia melalui kontaminasi impor ikan. Sebagai contoh, penyakit bercak merah (Motil Aeromonas Septicaemia/MAS) yang menyerang ikan mas belum ada di Indonesia sebelum tahun 1979. Penyakit ini baru muncul pada pertengahan tahun 1979. MAS masuk ke Indonesia melalui impor ikan dari Taiwan (Pasaribu, 2005). Penyakit MAS merupakan penyakit bakterial yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophilia. Penyakit ini mempunyai beberapa nama yaitu Hemorrhagic Septicemia, Ulcer Disease dan Red-Sore Disease. Bakteri Aeromonas hydrophilia merupakan bakteri yang berasal dari air kolam dan secara normal ada di dalam saluran pencernaan ikan (White, 1989). Penyakit MAS ini menyerang semua jenis ikan air tawar. Ikan yang terserang penyakit MAS akan mengalami penurunan nafsu makan, berenang tidak biasanya, insang pucat, kembung dan borok pada bagian kulitnya. Organ dalam ikan seperti ginjal, hati, limpa dan pancreas juga akan mengalami kerusakan. Ikan yang terserang penyakit ini akan mengalami kematian apabila tidak segera diobati.

Penyakit berikutnya yang sebelumnya belum pernah ada di Indonesia dan sekarang ada adalah KHV (Koi Herpes Virus). KHV masuk ke Indonesia tahun 2002 melalui ikan koi dari Cina. Ikan koi dari Cina ini dalam sertifikatnya dinyatakan sehat tak menunjukkan gejala sakit. Namun beberapa hari kemudian ketika ikan ini akan dibiakkan tampak gejala sakit dan mati. Ikan tadi menularkan penyakitnya dalam kontes ikan koi se-Jawa di Blitar. Dalam waktu singkat, penyakit meluas ke Bandung, Jawa Barat kemudian ke Subang. Melalui penjualan, penyakit ini menyebar ke Bogor, Jakarta, Sumatera Barat, dan Danau Toba. Kerugian akibat penyakit ini mencapai Rp 200 miliar (Pasaribu, 2005). KHV merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus herpes yang mudah menular. Penyakit ini dapat menyerang berbagai ukuran ikan mulai dari larva hingga induk dan dapat menyebabkan kematian sampai 70-100%. Ikan yang terinfeksi akan terlihat pucat, sisik terkelupas, mata terlihat cekung, dan terdapat lendir pada kulit dan insang (OIE, 2009).

Penyakit MAS dan KHV adalah dua contoh penyakit yang dulunya belum pernah ada di Indonesia. Masih banyak penyakit lain yang merupakan penyakit bawaan dari negara lain yang telah masuk ke Indonesia. Penyakit tersebut sulit diberantas karena dengan cepat menyebar hampir ke seluruh pelosok daerah di negeri ini. Pembudidaya ikan tentu telah mengalami kerugian yang besar akibat penyakit tersebut. Tentunya kerugian ekonomi tidak dapat dihindari, tidak hanya kerugian ekonomi tetapi juga masyarakat terkena imbasnya. Apabila ketersediaan ikan semakin berkurang akibat serangan penyakit, maka akan terjadi penurunan konsumsi ikan yang selanjutnya akan terjadi juga penurunan asupan protein.

Penyakit yang diduga eksotik bagi Indonesia sekarang adalah Channel catfish virus disease, Infectious Salmon anaemia, Piscirickketsiosis (Gyrodactylus salaries), White sturgeon iridoviral disease, Infectious with Bonamia ostre, Marteilia refringens, Mykrocytos mackin, Perkinsus marinus, Candidatus xenohaliotis, californiensis, Hapolosporodium costale, dan Crayfish plague (Aphanomyces astaci) (KKP, 2010).

Penyakit-penyakit eksotik tersebut apabila sampai masuk ke Indonesia, maka akan sulit untuk melakukan tindakan pembebasannya kembali. Sebagai contoh, Channel catfish virus disease (CCVD) merupakan penyakit virus yang sangat berbahaya. Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus herpes dengan tingkat kematian yang tinggi. CCVD tidak hanya menyerang induk tetapi juga pada tingkatan larva. Ikan yang terserang CCVD akan mengalami kembung pada bagian perut, mata menonjol keluar serta perdarahan yang meluas pada bagian sirip, perut bagian bawah dan perdarah pada bagian otot. Organ bagian dalam ikan pun akan ikut mengalami keruskan seperti ginjal dan limpa (AGDAFF, 2008). Penyakit ini harus mendapat perhatian serius dari badan karantina ikan, agar jangan sampai masuk ke negara Indonesia.

Penyakit eksotik berikutnya yang harus diwaspadai adalah Infectious salmon Anemia (ISA), penyakit ini disebabkan oleh isavirus yang bersifat sangat mudah menular. ISA pertamakali ditemukan di Norwegia pada tahun 1984 kemudian menyebar ke Chile, Kanada, dan ke Skotlandia pada tahun 2009. Kerugian yang dialami Skotlandia pada tahun 1998-1999 mencapai 32 juta dolar Amerika. Diperlukan  pemahaman tentang epidemiologi yang menyeluruh untuk mengendalikan penyakit ini. Ikan yang terserang ISA akan menunjukkan gejala klinis lemah, anemia, perut kembung, mata menonjol keluar, perdarahan pada kantung mata dan kekuningan pada bagian perut. Hampir semua organ dalam ikan juga akan mengalami perdarahan dan peradangan (ISU, 2010). Dua penyakit ikan eksotik tersebut beserta ke sembilan penyakit ekostik lainnya merupakan ancaman yang harus disikapi dengan serius melalui langkah-langkah pencegahan yang tepat. Hidup berdampingan dengan penyakit merupakan kerugian yang terus-menerus, dibutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk pengendaliannya.

 

Revitalisasi Peran Karantina Ikan

            Menurut Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2002, yang dimaksud dengan karantina ikan adalah tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Dari definisi tersebut terlihat bahwa badan karantina ikan merupakan badan yang menjadi ujung tombak bagi sistem pertahanan terhadap penyakit eksotik yang berbahaya bagi kelestarian sumberdaya perikanan Indonesia. Salah satu perannya untuk mencegah masuknya penyakit ikan dari luar negeri merupakan tanggung jawab besar sekaligus peranan yang sangat mulia. Semakin maraknya masuk ikan-ikan ilegal tidak melalui jalur yang semestinya merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tindakan tegas terhadap para importir yang tidak memenuhi persyaratan karantina berupa pemusnahan ikan yang mengandung penyakit harus dilakukan tanpa pandang bulu.

  1. Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia

Kualitas pegawai sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan suatu program kerja. Pegawai berkualifikasi baik akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap suatu lembaga. Kualitas yang dimaksud adalah mencakup kemampuan teknis individu dan mentalitas yang baik. Kemampuan teknis yang baik diperlukan dalam melakukan pemeriksaan terhadap ikan impor yang akan masuk ke Indonesia. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan dalam mengenali gejala klinis terhadap ikan-ikan yang sakit, kemampuan untuk mendiagnosis, kemampuan untuk melakukan pemeriksaan laboratoris sebagai bentuk peneguhan terhadap diagnosis, dan kemampuan untuk melakukan terapi atau tindakan eradikasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Kemampuan tersebut harus didukung oleh mentalitas yang baik. Karena mentalitas pegawai adalah hal yang sangat penting dilapangan bagi pegawai agar tidak mudah dipengaruhi oleh importir yang nakal. Mentalitas pegawai sekarang ini merupakan faktor yang sedang disoroti secara nasional. Banyak oknum pegawai bermental buruk yang mudah sekali disuap atau melakuan pungutan liar. Hal seperti ini harus menjadi perhatian utama karena akan sangat berbahaya sekali bagi sumberdaya perikanan nasional.

Program pelatihan berkelanjutan adalah program yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan individu pegawai. Kemampuan yang handal akan terbentuk apabila diasah terus-menerus. Keinginan untuk meningkatkan kemampuan diri, akan muncul salah satunya dengan memberikan reward and punishment. Pemberian hadiah bagi pegawai yang berprestasi tentu akan merangsang pegawai lain untuk berupaya melakukan tugas dengan baik. Pemberian hukuman juga merupakan hal yang tidak boleh di anggap remeh. Dengan memberi hukuman  kepada para pegawai yang melanggar tata aturan yang berlaku tentu akan menimbulkan efek jera agar dilain waktu tidak melakukan hal yang serupa. Disini perlu diterpkan suatu sistem pengawasan yang ketat terhadap para pegawai dari seorang atasan. Peran atasan dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja pegawai harus terus dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melihat langsung kinerja pegawai dilapangan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Upaya ini juga dapat dijadikan bahan evaluasi praktik nyata para petugas lapang dalam menjalankan tugas-tugasnya.

  1. Ketersediaan Alat Diagnostik yang Memadai

Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa ketersediaan alat penunjang (diagnostik) merupakan komponen yang sangat berperan dalam peneguhan suatu diagnosis. Keraguan dalam menentukan diagnosa definitif akan mudah ditepis dengan melakukan pemeriksaan penunjang. Salah satu alat yang paling baik saat ini dalam melakukan pemeriksaan terhadap adanya agen penyakit adalah PCR (polymerase chain reaction). Ketersediaan alat ini mutlak diperlukan baik oleh badan karantina maupun oleh stasiun karantina ikan. Keunggulan PCR ini adalah dapat mengenali agen penyakit hingga ke tingkat molekuler. Oleh karena itu perlu diupayakan ketersediaan PCR hingga ke stasiun karantina ikan kelas II.

Alat diagnostik juga penting dalam hal untuk membantu mengklasifikasikan hasil diagnosis dari suatu penyakit. Dalam istilah karantina dikenal dua kelompok penyakit berdasarkan tingkat bahayanya terhadap kelestarian sumber daya ikan, lingkungan dan kesehatan manusia, yaitu Hama dan Penyakit Ikan Golongan I dan  Hama dan Penyakit Ikan Golongan II. Hama dan Penyakit Ikan Golongan I adalah semua hama dan penyakit ikan karantina yang tidak dapat disucihamakan atau disembuhkan dari media pembawanya karena teknologi perlakuannya belum dikuasai sedangkan yang dimaksud dengan Hama dan Penyakit Ikan Golongan II adalah semua hama dan penyakit ikan karantina yang dapat disucihamakan dan/atau disembuhkan dari media pembawanya karena teknologi perlakuannya sudah dikuasai. Penentuan penggolongan Hama dan Penyakit Ikan ini sangat penting karena akan berbeda penanganannya. Apabila diketahui bahwa termasuk Hama dan Penyakit Ikan Golongan I, maka dilakukan pemusnahan dan apabila termasuk Hama dan Penyakit Ikan Golongan II, maka dilakukan perlakuan (pengobatan).

Tindakan terhadap penyakit eksotik adalah tindakan yang sama dengan tindakan untuk Hama dan Penyakit Ikan Golongan I yaitu tindakan pemusnahan. Dari sisi ini, maka alat diagnostik sebagai penunjang suatu diagnosis diperlukan. Kesalahan penentuan golongan penyakit dan tindakan yang akan diambil, akan sangat berbahaya dalam hal penyakit eksotik terdeteksi untuk pertama kalinya. Penyakit eksotik yang tidak terdeteksi di tempat pemasukan, akan menyebar dengan cepat dan berbahaya bagi sumberdaya perikanan nasional. Sekali penyakit tersebut masuk, maka sulit untuk dikendalikan dan tentunya membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Alat diagnostik tentunya bukan satu-satunya unsur penting yang dapat menentukan atau mengenali suatu penyakit. Hal yang perlu difahami adalah pada suatu alat berpeluang terjadi kesalahan baik itu positif palsu atau negatif palsu. Positif palsu artinya suatu alat mendeteksi adanya suatu penyakit yang seharusnya tidak terdeteksi. Negatif palsu adalah suatu alat menepis terhadap adanya suatu penyakit yang seharusnya terdeteksi. Kepercayaan terhadap suatu alat diagnosis tidak boleh sepenuhnya, karena kita harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan klinis dan kondisi-kondisi lainnya. Hal yang paling penting adalah kemampuan handal petugas untuk mendiagnosis suatu penyakit.

  1. Pengetatan Pengawasan Lalu Lintas Ikan

Pengawasan lalu lintas terhadap media pembawa yang berpotensi mengandung resiko masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karantina harus dilakukan seketat mungkin. Pengawasan ini dapat dilakukan di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran, di area pembudidayaan ikan, perairan umum, tempat penyimpanan, tempat penampungan dan tempat pemasaran media pembawa. Pengawasan lalu lintas ini penting dilakukan karena salah satu peran karantina adalah mencegah tersebarnya penyakit dari wilayah yang sedang terjangkit ke wilayah bebas. Sistem pengawasan antar daerah sekarang ini dirasa sangat lemah, masih banyak lalu lintas terhadap media pembawa masih belum terawasi. Hal ini tentu disebabkan oleh banyak faktor. Luasnya cakupan wilayah Indonesia dibanding dengan jumlah petugas serta kesadaran pembudidaya dan pendistributor untuk melapor masih rendah. Namun, kendala ini tentu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak melakukan pengawasan sama sekali. Memanfaatkan potensi yang ada adalah lebih baik dibanding bersikap pasif sama sekali.

  1. Komunikasi, Informasi dan Edukasi Publik

Sosialisasi kepada masyarakat merupakan peran yang tidak boleh terabaikan. Tersebarnya informasi yang benar kepada masyarakat merupakan titik tolak bagi terwujudnya kepedulian masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam rangka menjaga kelestarian sumberdaya perikanan. Tiga komponen ini yaitu komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tidak boleh dipisahkan satu sama lain. KIE berupa penyuluhan kepada para pembudidaya ikan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong untuk berpartisipasi aktif, misalnya bila ada kasus kejadian penyakit maka para pembudidaya diharapkan melapor kepada instansi terkait agar ditindak lanjuti. Peran ini sangat penting agar penyebaran ikan yang mengandung penyakit tidak meluas ke daerah-daerah lain yang belum terjangkit. Kesadaran lain yang perlu dibangun adalah bila ada kematian ikan dalam jumlah besar, maka pembudidaya/peternak ikan tidak serta merta langsung menjual ikan tersebut karena prinsip isolasi perlu diperhatikan dalam masalah ini. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan menyebarkan leaflet berisi informasi singkat yang mudah dimengerti tentang ajakan untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam proses pembudidayaan ikan.

Masyarakat yang berada di daerah perbatasan juga perlu diimbau agar tidak memasukkan ikan yang berasal dari negara lain seperti misalnya memasukkan ikan lele dari Malaysia tanpa dilengkapi persyaratan dan melalui tempat yang semestinya. Hal ini tentu berbahaya apabila ikan tersebut membawa penyakit yang akan mengancam kelestarian ikan-ikan lokal.

 

KESIMPULAN        

            Sistem pertahanan terhadap penyakit ikan eksotik harus diperkuat demi menjaga kelestarian sumberdaya perikanan nasional. Peran ini tidak hanya dilakukan oleh balai dan stasiun karantina sebagai ujung tombak utama, tetapi juga perlu peran serta masyarakat. Melalui kerjasama yang baik antara karantina dengan masyarakat diharapkan dapat terwujud perikanan nasional yang maju menuju negara maratim yang tangguh.

DAFTAR PUSTAKA

Aquatic Animal Diseases Significant to Australia [AGDAFF]. 2008. Aquatic Animal Diseases Significant to Australia: Identification Field Guide. Australian Government Department of Agriculture, Fisheries and Forestry. Canberra.

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2009a. Produksi Perikanan Laut Yang Dijual Di TPI Menurut Provinsi, 2000-2009 (Ton). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=56&notab=3

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2009b. Produksi Perikanan Tangkap Menurut Provinsi dan Subsektor, 2005-2008 (Ton). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=56&notab=5

Iowa State University [ISU]. 2010. Infectious Salmon Anemia. The Center for Food Security and Public Health. College of Veterinary Medicine, Iowa State University.

Kementrian Kelautan dan Perikanan [KKP]. 2010. Konsumsi Ikan 2014 Digenjot Naik 39%. http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/2421/Konsumsi-Ikan-2014-Digenjot-Naik-39/

Kementrian Kelautan dan Perikanan [KKP]. 2010. Quarterly Aquatic Animal Diseases report.  Directorate of Fish Health & Environment, Directorate General of Aquaculture, Ministry of Marine Affairs and Fisheries.

OIE. 2009 . Koi Herpesvirus Disease.  Manual of Diagnosis Test for Aquatic Animals Chapter 2.3.6.

Pasaribu FH. 2005. Penyakit Hewan Akuatik Diduga dari Impor Ikan. http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0509/06/nas23.htm

White MR. 1989. Diagnosis and Treatment of “Aeromonas hydophilia” Infection of Fish. Illinois-Indiana Sea Grant Program Purdue University.

Both comments and trackbacks are currently closed.