Category Archives: Epidemiologi

EVALUASI EKONOMI TERHADAP RENCANA ERADIKASI BRUCELLOSIS DI NEW ZEALAND

Alih Bahasa Oleh: Dimas Tri Nugroho

Bull.Off.int.Epiz,. 1980. 92 (5-6). 331-338

XLVIIIe Session Generale, Rapport No 1.16

A.A. Shepherd, B.H. Simpson dan R.M. Davidson

PENDAHULUAN

Brucellosis adalah penyakit reproduksi menular pada ruminansia yang disebabkan oleh Brucella sp. Penyakit ini merupakan penyakit pentingĀ  karena menular ke manusia (zoonosis). Brucellosis menyebar ke berbagai wilayah sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi pengembangan peternakan akibat kematian dan kelemahan pedet, abortus, infertilitas, sterilitas, penurunan produksi susu dan tenaga kerja ternak, serta biaya pengobatan dan pemberantasan yang mahal. Brucella menyebabkan abortus atau keluron pada umur kebuntingan 6-9 bulan. Bakteri penyebabnya sampai saat ini telah diidentifikasikan sebagai 6 (enam) spesies yaiu Brucella melitensis, Brucella abortus (pada sapi), Brucella suis, Brucella neotomae, Brucella ovis, dan Brucella canis. Infeksi Brucella sp. bersifat fakultatif intraseluler yang bersifat kronis. Pada ternak terinfeksi akan terbentuk reaksi tanggap kebal humoral secara persisten atau bertahan lama dengan terbentuknya antibodi di dalam serum. Antibodi tersebut dapat dideteksi dengan uji coba serologis seperti Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT). Usaha pencegahan dan pengendalian terhadap Brucellosis sapi pada umumnya terfokus pada pemberantasan penyakit dengan mengendalikan populasi sapi bebas dari agen penyakit. Oleh karena itu semua usaha diarahkan pada mencegah berpindahnya dan menyebarnya agen penyakit serta mencegah penderita baru. Pada prinsipnya vaksinasi sapi betina muda dengan vaksin inaktif (strain 19) perlu dilakukan pada wilayah dengan prevalensi Brucellosis tinggi, dengan tujuan sementara untuk menurunkan jumlah abortus.

Infeksi Brucella abortus pada sapi di New Zealand pertama kali diketahui pada akhir abad ke-19. Pada akhir tahun 1940an vaksinasi Brucella abortus dengan menggunakan vaksin S.19 berhasil menurunkan insidensi kejadian abortus. Survei yang dilakukan pada tahun 1960an masih ditemukan positif Brucellosis dan telah mengalami penyebaran pada wilayah lain. Pemerintah telah mewajibkan vaksinasi pada sapi-sapi betina muda pada tahun 1966-1977 diikuti dengan program test and slaughter.

Makalah ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan biaya dan keuntungan-keuntungan pada rencana eradikasi Brucellosis di New Zealand. Baca lebih lanjut

Iklan