Category Archives: Penyakit Dalam

Penyakit Metabolisme pada Sapi Perah ‘Fatty Liver Disease’

Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Fatty liver disease mempunyai arti yang sama dengan Fatty liver syndrome dan hepatic lipidosis. Penyakit ini merupakan penyakit metabolisme yang seringkali terjadi pada sapi perah. Fatty liver disease biasanya dimulai pada masa pre hingga post partus. Perubahan hormonal selama partus dan laktogenesis ikut berkontribusi terhadap terjadinya fatty liver disease. Namun demikian pada beberapa kasus kurangnya nafsu makan juga menjadi salah satu pemicu terjadinya penyakit ini.

Etiologi

Fatty liver terjadi apabila konsentrasi nonesterified fatty acid (NEFA) di dalam darah tinggi. Konsentrasi tertinggi dapat dicapai saat melahirkan ketika konsentrasi plasma >1,000 µEq/L. konsentrasi NEFA dapat mencapai level tersebut bila sapi tidak mau makan. Asupan NEFA oleh hati proporsional dengan konsentrasi NEFA di dalam darah. NEFA oleh hati dapat di oksidasi atau diesterifikasi. Produk esterifikasi primer oleh hati adalah trigliserida yang dapat di keluarkan sebagai bagian dari very low density lipoprotein (VLDL) atau disimpan. Pada ruminansia proses pengeluaran trigliserida berlangsung lambat sehingga mudah terjadi akumulasi. Hasil oksidasi NEFA akan menghasilkan CO2 dan badan-badan keton terutama acetoacetate dan β-hydroxybutyrate. Pembentukan badan-badan keton terjadi saat kadar glukosa darah rendah. Kondisi rendahnya kadar glukosa darah dan insulin menjadi pemicu terjadinya fatty liver karena insulin menahan mobilisasi lemak dari jaringan adiposa. Peningkatan trigliserida hati terjadi pada saat melahirkan. Hal ini terjadi karena sebelum atau selama melahirkan asupan pakan menurun. Dalam waktu 24 jam sejak penurunan asupan pakan, fatty liver dapat terjadi karena trigliserida lambat dikeluarkan sebagai lipoprotein. Fatty liver merupakan suatu konsekuensi dari keseimbangan energi yang negatif, bukan keseimbangan energi yang positif. Konsumsi energi diatas kebutuhan untuk tujuan maintenance dan reproduksi tidak akan menyebabkan terdepositnya trigliserida di jaringan hati. Terdepositnya trigliserida akan terjadi jika sapi dalam kondisi buruk sebagai akibat dari menurunnya asupan pakan.

Gejala Klinis

Kasus fatty liver pada sapi perah tidak menunjukkan gejala klinis yang spesifik, dengan kata lain tidak ada gejala patognomonis. Fatty liver dapat menunjukkan gejala seperti menurunnya produksi susu, meningkatnya kejadian mastitis, dan rendahnya performa dalam bereproduksi. Namun demikian, penyebab dan dampaknya belum ditetapkan. Konsekuensi metabolis dari akumulasi trigliserida dalam hati antara lain menurunnya proses glukoneogenesis, ureagenesis dan respon hormonal. Akibatnya terjadi hipoglisemia, hiperammonemia dan perubahan pada profil endokrin. Fatty liver, dalam perjalanan penyakitnya, mirip dengan penyakit lain seperti metritis, mastitis, displasia abomasum, asidosis dan hipokalsemia. Observasi di lapangan menunjukkan bahwa respon untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit lain yang bersamaan dengan fatty liver sangat kurang. Sapi yang asupan pakannya kurang dan peningkatan produksi susunya lambat cenderung mempunyai penyakit ini. Sapi yang mempunyai fatty liver kemungkinan besar akan mengalami ketosis. Fatty liver seringkali terjadi pada sapi yang mengalami obesitas dan yang mengalami downer cows. Namun demikian terjadinya akumulasi trigliserida tidak mesti diakibatkan oleh downer cows atau obesitas.

Diagnosis

Alat pendiagnosis untuk kasus fatty liver jumlahnya terbatas. Penyakit ini dapat terdignosa setelah Baca lebih lanjut

Iklan

Motile Aeromonas Septicemia (MAS)

Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Pendahuluan

Motile Aeromonas Septicemia (MAS) merupakan penyakit pada ikan yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila (White, 1989). Penyakit ini mempunyai beberapa nama lain yaitu Hemorrhagic Septicemia, Ulcer Disease,Motile Aeromonad Infection (MAI), Redpest atau Red-Sore Disease. Nama lain ini terkait erat dengan lesio yang disebabkannya, Aeromonas hydrophila merupakan bakteri gram negatif, motil, berbentuk batang yang dapat diisolasi dari air kolam dan secara normal ada pada kulit dan saluran gastrointestinal ikan. Penyakit MAS ini umumnya menyerang ikan tropis, ikan air tawar dan ikan hias (White, 1989; Camus et al. 1998).

Faktor Predisposisi

Aeromonas hydrophila merupakan bakteri yang bersifat oportunistis, artinya bakteri ini dapat menimbulkan penyakit apabila lingkungannya mendukung. Faktor pendukung ini antara lain ikan dalam kondisi stres, kepadatan yang terlalu tinggi, akibat transportasi, rendahnya asupan nutrisi dan rendahnya kualitas air. Kualitas air yang rendah tercermin dari tingginya kandungan nitrit, rendahnya oksigen terlarut dan tingginya kandungan karbon dioksida. Aeromonas hydrophila memanfaatkan nutrisi dalam air dan mampu hidup lama walaupun tanpa induk semang (White, 1989; Camus et al. 1998).

Gejala Klinis

Ikan yang terkena penyakit MAS akan memperlihatkan gejala klinis beragam seperti kematian mendadak, tidak nafsu makan, berenang tidak biasanya, insang pucat, kembung dan ulkus pada kulit.

Gambar 1. Erosi Komplit pada Caudal Peduncle (foto Bob Durborow)

Gambar 2. Ulkus Pada Kulit (foto John Hawke)

Ulkus ini akan dikelilingi oleh jaringan yang berwarna merah. Organ dalam yang dapat terserang antara lain insang, ginjal, hati, pankreas, limpa, dan otot skelet. Baca lebih lanjut

Pinkeye pada Sapi

Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Pendahuluan

Pinkeye disebut juga infectious bovine keratoconjunctivitis (IBK), infectious keratitis, atau blight merupakan penyakit yang biasa menyerang sapi. Penyakit ini bersifat mudah menular menyebabkan inflamasi pada kornea dan konjungtiva. Beberapa kasus (2%) bahkan ada yang sampai menyebabkan ulkus kornea hingga kebutaan. Pinkeye sebenarnya termasuk ke dalam self limiting disease, artinya dapat sembuh dengan sendirinya.

Pinkeye menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit, tercatat kerugiannya mencapai 150 juta dolar di Amerika tiap tahunnya. Kerugian ekonomi dapat berupa  penurunan bobot badan, produksi susu, dan biaya pengobatan. Penyakit ini umum menyerang heifers dan pedet umur 3 minggu.

Kausa

Pinkeye utamanya disebabkan oleh bakteri Moraxella bovis, bakteri ini bisa ditemukan di mata penderita atau pada hewan yang terlihat sehat. Pinkeye merupakan penyakit multifaktor, artinya bahwa banyak faktor predisposisi yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit ini. Lalat merupakan vektor mekanik yang dapat menyebarkan penyakit ini dari satu individu ke individu lainnya.

Pinkeye dapat terjadi dengan diawali oleh adanya iritasi pada mata, iritasi ini bisa disebabkan oleh kibasan ekor, gesekan rumput dan debu. Debu ini bersamaan dengan paparan ultraviolet meningkatkan peluang terjadinya penyakit ini. Sapi yang kekurangan pigmen pada kelopak matanya berpeluang besar terkena pinkeye karena tingginya sensitifitas kelopak mata terhadap paparan ultraviolet. Prevalensi tinggi terjadi pada Bos Taurus dibanding dengan Bos indicus dan lebih resisten pada cross bred. Infeksi campuran dengan infectious bovine rhinotracheitis (IBR), mycoplasma, chlamydia, dan Branhemella ovis akan memperburuk kondisi hewan. Baca lebih lanjut

Epilepsi pada Kucing

Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Epilepsi merupakan gangguan pada otak yang bersifat kronis karena seringnya mengalami seizure (Eldredge et al 2008). Suatu seizure terjadi bila sinyal abnormal dari syaraf menyebabkan otot mendadak melakukan konvulsi.

Jenis-jenis Seizure:

  1. Petit Mal:  seizure ringan, yaitu kehilangan kesadaran secara tiba-tiba.
  2. Grand Mal, Tonic Clonic: jenis seizure ini paling umum terjadi, kucing jatuh dan mengalami kejang dengan merenggangkan semua ekstremitasnya. Kontrol terhadap otot hilang begitu juga dengan kontrol terhadap vesica urinaria dan usus. Seizure jenis ini berlangsung selama 1-3 menit.
  3. Status Epilepticus: kondisi seizure seperti ini dapat berakibat fatal dan berlangsung lebih dari 5 menit. Seizure jenis ini berulang dalam jarak yang pendek dan kucing masih dalam keadaan sadar.
  4. Cluster Seizures: Seizure jenis ini berulang dalam jarak yang pendek tetapi kucing kehilangan kesadarannya (Hillard 2008).

Penyebab:

Epilepsi bersifat idiopathic bila Baca lebih lanjut

Sinusitis pada Kuda

Ditulis Oleh: Dimas Tri Nugroho

Definisi

Sinusitis adalah inflamasi pada daerah sinus. Sinusitis sering terjadi bersamaan dengan infeksi pernafasan. Sinusitis juga dapat terjadi sebagai kombinasi dari infeksi gigi, alergi seperti asma, imun sistem menurun, atau penyakit infeksi lainnya.

Kuda memiliki tiga pasang sinus di kepalanya yaitu:

1. Sinus Frontalis

Terdapat di bagian dorsal tengkorak, diantara mata. Jalur drainase menuju hidung melalui caudal sinus maxillaris.

2. Sinus Maxillaris

Terdapat diantara tulang maxilla di atas akar gigi. Masing-masing terdiri atas dua komponen yaitu sinus maxillaris rostralis di bagian depan dan sinus maxillaris caudalis yang terletak di belakangnya. Kedua sinus tersebut tidak saling berhubungan. Seiring dengan bertambahnya umur, sinus maxillaris semakin membesar.

3. Sinus Sphenopalatine

Adalah sinus kecil yang terletak di medial sinus maxillaris caudalis. Baca lebih lanjut